Kamis, 28 Agustus 2014

LAUTAN BERKAH KALIMAT THOYYIBAH

Dalam bertutur-kata kita dianjurkan untuk menggunakan kalimat-kalimat yang baik (kalimat thayyibah) yakni berupa ungkapan dzikir (mengingat Allah dengan menyebut asma-Nya). Kalimat thoyyibah juga merupakan kalimat tauhid, yaitu ucapan yang menandakan keimanan, menuntun kepada kebajikan dan menghindari kemungkaran.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”
(QS Ibrahim 24-25).

Macam-macam kalimat thoyyibah yaitu:

1. BASMALAH, bacaannya adalah: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Yang artinya: Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacaan basmalah diucapkan setiap kali kita akan mengawali suatu pekerjaa atau perbuatan.

Keutamaaan bacaan basmalah adalah:

a. Untuk menjaga diri dari niat buruk. Dengan basmalah membuat kita malu jika bermaksud akan melakukan hal-hal yang buruk. Karena niat buruk bersumber dari syaithon, ketika kita lafadzkan asma Allah, maka larilah makhluq durhaka itu.

b. Mengingatkan kita bahwa Allah selalu mengawasi kita, sehingga menghindarkan kita dari perbuatan buruk. Jika aparat penegak hukum saja bisa dijadikan alat untuk menekan atau menghalangi kejahatan, apalagi jika sadar bahwa yang mengawasi adalah Dzat yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.

c. Memberikan harapan bahwa pekerjaan yang akan kita lakukan dapat terlaksana dengan baik dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

d. Menumbuhkan ketawakalan, berserah diri pada yang mengatur kehidupan, yakni Allah Ta’ala.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiap-tiap urusan penting menjadi putus berkahnya jika tidak dimulai dengan ucapan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.” (HR. Ar-Rahawy).

2. HAMDALAH / TAHMID, bacaannya adalah: اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعاَلَمِينَ

Yang artinya: Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Bacaan hamdalah atau tahmid diucapkan setiap mengakhiri suatu perbuatan atau setiap mendapatkan anugerah dari Allah SWT.

Keutamaan bacaan hamdalah adalah:

a. Meyakinkan diri bahwa segala sesuatu terjadi karena pertolongan Allah SWT.

b. Jika sesuatu yang terjadi itu kurang baik namun tetap disyukuri, maka akan tetap terasa nikmat, dibandingkan jika sesuatu yang terjadi itu lebih buruk lagi.

c. Jika sesuatu yang terjadi itu lebih baik dan juga disyukuri, maka kenikmatan yang dirasakan akan berlipat ganda.

Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14) : 7).

3. TASBIH, bacaannya adalah: سُبْحاَنَ اللهِ

Yang artinya: Maha Suci Allah. Bacaan tasbih digunakan untuk:

a. Mengakui kesucian Allah SWT yang terbebas dari segala hal yang dipersekutukan oleh kaum kafir. Penggunaan untuk hal ini yang paling banyak dipakai dalam Al-Qur’an berdasar beberapa ayat yang cukup banyak jumlahnya, diantaranya:

QS. Ath-Thu ayat 52: Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

QS.Yusuf: 108: Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

QS. Al-Anbiya’ ayat  22:  Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. 

b. Sebagai pengingkaran terhadap sifat-sifat buruk yang dituduhkan oleh orang-orang kafir. Ini berdasarkan Firman Allah SWT:

QS. Maryam ayat 35: Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. 

QS. An-Nah ayat 57: Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki).

QS. Mukminun ayat 91: Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

c. Menyatakan kekaguman terhadap ciptaan Allah SWT dan terhadap apa yang ditetapkan Allah SWT.

QS. Ali Imron  aya  91: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS. Zukhruf ayat 13: Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,

QS. Isro’ ayat 1: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

d. Menyatakan rasa syukur dengan mengagungkan asma Allah SWT.

QS. Ar-Ruum ayat 17: Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,

QS. Yasin ayat 36: Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

4. TAHLIL, bacaannya adalah: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Yang artinya: Tiada Tuhan selain Allah.
Bacaan tahlil ini dimaksudkan untuk mengakui keesaan Allah SWT, sebagai penafian terhadap ilah-ilah yang lain, dan penegasan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi. Sungguh, Allah Ta’ala adalah Dzat yang sama sekali tidak membutuhkan siapa pun. Dia Maha Kuasa. Tiada Tuhan selain Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda: “Seutama-utama dzikir ialah laa ilaaha illallaah, dan seutama-utama doa adalah alhamdulillâh.” (HR. Ibnu Majah).

Kalimat tahlil ini mempunyai makna dan konsekuensi yang sangat luas. Perlu pembahasan khusus untuk itu. Yang penting untuk diperhatikan adalah cara pengucapannya. Banyak kaum muslim yang membaca tahlil dengan hitungan sekian, atau sekian. Tapi melafadzkannya dengan cepat dan tidak jelas. Ini sangat disayangkan karena akan melenceng dari arti yang sebenarnya. Ada pula yang mengucapkannya tidak lengkap misalnya Laa ilaah saja, atau dipelesetkan jadi ceilah, Astaghfirullaah, itu artinya tidak ada Tuhan. Jadi ucapkan dengan pelan, jelas, lengkap, diresapi dan dihayati.

5. TAKBIR, bacaannya adalah: الله اکبر

Yang artinya: Allah Maha Besar. Kalimat ini mengandung arti ungkapan penetapan akan keagungan atau kebesaran Allah Ta’ala dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kalimat ini diucapkan tatkala kagum akan sesuatu dan untuk mengakui kekuasaan Allah SWT yang tanpa batas, tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Merasa diri kecil, tidak ada apa-apanya, tidak punya kuasa apapun dibandingkan kebesaran Allah SWT.

6. HAUQOLAH, bacaannya adalah: لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ

Yang artinya: Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan ijin Allah. Bacaan ini diucapkan tatkala:

a. Ber’azzam (bertekad) akan melakukan suatu pekerjaan (yang berat). Kalimat ini sebagai wujud sikap tawakal seseorang, sekaligus mengharap bantuan kekuatan dari Allah SWT.

b. Telah selesai melakukan suatu pekerjaan (yang berat), sebagai pengakuan akan kelemahan diri sendiri dan penegasan bahwa semua itu bisa dilakukan karena bantuan kekuatan dari Allah SWT.

QS.Al-Kahfi ayat 39: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "Maasya a Allaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan”.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Pada suatu ketika Nabi menaiki suatu pendakian. Ketika seorang lelaki sampai ke puncaknya, berserulah lelaki itu dengan ucapan yang keras, ‘La ilaaha illallaah wallaahu akbar.’ Mendengar itu, Nabi SAW bersabda kepada Abu Musa, ‘Kamu sebenarnya tiada menyeru orang yang jauh darimu.’ Sesudah itu, Nabi bersabda, ‘Apakah tidak lebih baik aku tunjukkan kepadamu suatu kalimah dari perbendaraan surga?’ Abu Musa menjawab, ‘Baik ya Rasulullah.’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Kalimah itu adalah: Laa haula walaa quwwata illaa billaah’. (HR. Bukhari dan Muslim).

7. HASBALAH, bacaannya adalah: حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Yang artinya: Cukuplah bagiku Allah saja, Dialah sebaik-baik penjaga. Bacaan ini diucapkan:

a. Sebagai pengakuan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya tempat bergantung, tempat bermohon, dan penjaga yang tidak pernah lengah.

b. Ketika seseorang berada pada keadaan atau tempat yang sangat sulit, begitu pula ketika menghadapi masalah rumit atau musuh yang sangat kuat.

QS. Ali Imron ayat 173: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

c. Sebagai keridloan yang sangat atas segala ketentuan Allah SWT.

QS. At-Taubah ayat 59: Jikalau mereka sungguh-sungguh ridlo dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

QS.At-Taubah ayat 159: Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".

8. ISTIGHFAR, bacaannya adalah: أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمِ

Yang artinya: Saya memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Bacaan istighfar ini digunakan:

a. Sebagai ungkapan permohonan ampun kepada Allah SWT. Manusia adalah makhluk tak sempurna yang sering salah, khilaf dan berbuat dosa. Istighfar sebagai penghapus dosa-dosa tersebut agar tidak menumpuk dan supaya tidak berkembang menjadi dosa yang lebih besar.

QS. Ali Imron ayat 135: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

b. Agar diturunkan hujan yang lebat. Jika akan dilaksanakan sholat sunah istisqo (meminta hujan), terlebih dulu membaca istighfar yang banyak.

c. Agar dibanyakkan harta, anak-anak dan didatangkan kemakmuran.

Maka aku(Nabi Nuh AS) katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh: 10-12)

d. Agar diberi tambahan kekuatan.

QS. Huud ayat 52: Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."

9. INSYA ALLAH: إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Yang artinya: Jika Allah menghendaki. Bacaan ini biasa diucapkan ketika:

a. Berniat hendak melakukan sesuatu di masa yang akan datang. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa kehendak Allah adalah di atas segalanya. Tak seorangpun mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.

QS. Al Kahfi ayat 23-24: Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah".Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini".

b. Digunakan sebagai harapan atau permohonan agar Allah memberikan sesuatu di waktu mendatang.

Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".

Sangat disayangkan dewasa ini banyak orang mempergunakan kalimat ini secara keliru, sehingga berkembang anggapan bahwa kalimat mulia ini diucapkan sebagai kelonggaran untuk tidak menepati janji. Padahal seharusnya dengan mengucap Insya Allah justru merupakan janji yang sudah pasti akan ditepati menurut perhitungan manusia, namun tetap disertai kepasrahan terhadap kehendak Allah jika ternyata ada penghalang yang tidak terelakkan.

10. MAASYAA  ALLAH: مَا شَاءَ اللَّهُ

Yang artinya: Allah telah berkehendak akan hal itu. Ungkapan ini dipakai untuk:

a. Menggambarkan kekaguman kepada ciptaan Allah SWT, sekaligus sebagai pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya. Kalimat ini diucapkan tatkala  mengetahui sesuatu yang hebat atau yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa itu bisa berupa kebaikan misalnya keindahan alam, kehebatan akal, dsb namun bisa pula berupa bencana misalnya tsunami, angin topan, petir, gunung meletus dsb.

b. Menggambarkan bahwa Allah kuasa atas segalanya. Misalnya: Allah kuasa membuat hambanya yang miskin menjadi kaya (QS. At-Taubah: 28), kuasa member manfaat dan madlorot (QS. AL-A’raaf: 188), kuasa memberikan surge atau neraka (QS. Al-An’am: 128), dan masih banyak yang lainnya.

11. ISTIRJA', bacaannya adalah: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
                                     
Yang artinya: Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita kembali. Bacaan ini diucapkan ketika menghadapi musibah, misalnya kematian, kehilangan harta, atau kehilangan apa-apa yang telah kita miliki sebelumnya.

Dzikir ini akan membantu kita untuk berlapang dada dalam menghadapi setiap peristiwa. Semakin dalam seseorang menghayati hikmah dzikir ini, semakin ringan menghadapi problema hidup dan semakin ikhlash menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT, karena yakin bahwa semua akan kembali pada Sang Pencipta yaitu Allah SWT.


QS. Al-Baqoroh ayat 155-156: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaailaihi raaji`uun"

Jumat, 22 Agustus 2014

DALAM NAUNGAN AL-QOHHAAR

Al-Qohhaar adalah salah satu dari 99 Asma’ul Husna (nama-nama indah milik Allah SWT), yang berarti menjinakkan, menundukkan, mengalahkan, memaksakan atau dengan kata lain adalah perkasa.

Dalam Al-Qur’an, Al-Qohhaar disebut enam kali dan semuanya dirangkaikan setelah penyebutan kata Al-Waahid, yang berarti Maha Esa. Penyebutan nama dan sifat Al-Waahid di depan Al-Qohhaar memberi penegasan atau penguatan bahwa hanya  Allah SWT satu-satunya yang memiliki sifat Al-Qohhaar itu, tidak ada yang lain. Satu diantaranya adalah dalam Surah Al-An’am ayat 18:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.”

Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya (11/288) menyatakan:
“Maksud dari kata (القاهر) adalah yang menundukkan dan merendahkan makhluq-Nya, jadi Allah yang tinggi di atas mereka. Dikatakan 'di atas hamba-Nya', karena Dia mensifati diri-Nya menundukkan mereka, dan sifat setiap yang menundukkan sesuatu itu berarti dia berada di atasnya.

Menurut Tafsir Ath-Thabary 17/52, Al-Qohhaar (القهار) merupakan sighat mubalaghah (kata bentukan yang artinya: sangat) dari isim fa'il (kata kerja) Al-Qoohir (القاهر) yang berarti "Yang mengalahkan segala sesuatu dan mengaturnya sebagaimana yang Dia kehendaki

Al-Baihaqi rahimahullah  berkata, "Al-Qohhaar adalah Al-Qoohir dalam makna mubalaghah (sangat). Dia yang maha kuasa. Maka maknanya kembali kepada sifat qudrah (kuasa) yang merupakan sifat berdiri sendiri. Ada yang mengatakan bahwa Dialah yang menundukkan makhluq atas apa yang Dia kehendaki." (Al-Asma wa As-Sifat, Al-Baihaqi, 1/164)

Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, "Al-Qohhaar termasuk sifat Allah Azza wa Jalla." Al-Azhari berkata, Allah adalah Al-Qoohir Al-Qohhaar. Dia menundukkan makhluq-Nya dengan kekuasaan-Nya dan ketetapan-Nya serta mengarahkan mereka atas apa yang Dia kehendaki, baik mereka suka maupun enggan. Al-Qohhqar adalah mubalaghah. Ibnu Atsir berkata, "Al-Qoohir adalah Yang mengalahkan seluruh makhluq." (Lisanul Arab, 5/120)

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata dalam Thariqul Hijratain: 233
"Al-Qohhaar tidak akan ada pada sesuatu kecuali dia esa dan mustahil memiliki sekutu. Al-Qohhaar (menundukkan) dan Al-Wihdah (esa) adalah dua hal yang saling berkaitan. Al-Mulk (kerajaan), Al-Qudrah (kekuasaan), Al-Quwwah (kekuatan), Al-Izzah (kemuliaan), semuanya milik Allah yang Esa dan Menundukkan. Selain dari-Nya berarti dia makhluk dan ditundukkan, ada lawan, ada yang meniadakan dan ada tandingan. Allah menciptakan angin dan menundukkannya satu sama lain, menghantamkannya dan mencerai-beraikannya. Dia menciptakan air, lalu air ditundukkan oleh angin yang mengalirinya dan mencerai-beraikannya. Dia menciptakan api, lalu api ditundukkan oleh air yang dapat memadamkannya. Dia menciptakan besi, lalu besi ditundukkan oleh api yang meleburnya dan menghilangkan kekuatannya. Dia menciptakan batu, lalu batu ditundukkan oleh besi yang dapat menghancurkannya berkeping-keping. Dia menciptakan Adam dan keturunannya, lalu Iblis dan keturunannya menguasainya. Dia ciptakan Iblis dan keturunannya, lalu Iblis ditundukkan malaikat yang mengusir dan mengejar-ngejar mereka.”

As-Sa'dy rahimahullah berkata dalam Tafsir As-Sa'dy, hal. 415:
"Setiap makhluq diatasnya ada makhluq lagi yang mengalahkannya. Di setiap makhluq yang mengalahkan, adalagi yang lebih tinggi yang mengalahkannya. Hingga akhirnya yang menundukkan adalah yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Keperkasaan dan tauhid adalah dua perkara yang berkaitan dan ditentukan sebagai milik Allah semata."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa, 8/79 menguraikan  maknanya, "Bukan sekedar karena kekuasaannya dan keperkasaannya, akan tetapi untuk menunjukkan kesempurnaan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kasih sayang dan kebijaksaan-Nya. Dia adalah sebaik-baik yang bersikap bijak dan kasih sayang. Dia lebih sayang kepada hamba-Nya dari orang tua terhadap anaknya. Dia telah berbuat baik terhadap segala sesuatu yang Dia ciptakan."

***
Sifat qoohir itu berlaku pada seluruh makhluq-Nya, baik yang taat maupun yang maksiat, baik yang bernyawa maupun yang tidak. Karena hal tersebut merupakan sifat Rububiyah-Nya, yaitu Allah SWT yang menundukkan semua makhluq-Nya dalam sunnatullah (pengaturan Allah).

Allah SWT Maha Perkasa, seluruh makhluk tunduk dalam genggaman  kekuasaan-Nya, Dia menjinakkan hati hamba-Nya sehingga dengan sukarela mengabdi hanya pada-Nya. Dia menundukkan alam semesta beserta isinya dalam aturan-Nya, bumi dan planet beredar pada tempatnya, siang digantikan dengan malam dan sebaliknya, musim datang silih berganti tanpa ada yang mampu menghentikannya.

Allah mengalahkan Fir’aun dan orang-orang kafir lainnya dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya, memaksakan hujan turun, petir membahana, gunung meletus, dan laut berombak, tanpa ada yang mampu menghalanginya. Sepandai apapun manusia, takkan bisa  memperlambat atau mempercepat perputaran bumi, secerdas apapun ilmuwan takkan mampu memperpanjang malam walau hanya sedetik, bahkan takkan kuasa menahan tubuhnya sendiri agar tidak menjadi tua.

Sungguh, Allah telah mengalahkan semua makhluq-Nya, Dia yang menjadikan manusia lapar ketika perut kosong, menjadikannya lemah tatkala kantuk menyerang, menjadikannya tak berdaya saat sakit dan membuatnya pasrah tak kuasa menolak jika Malaikat Izrail mencabut nyawanya.

Allah SWT pula yang mampu memberikan kepada manusia sesuatu di luar keinginannya dan mampu menghalanginya dari sesuatu yang didambakan. Allah SWT pula yang mampu memberikan kepada manusia apa yang diinginkannya bahkan lebih dari itu, dan mampu pula menahan apa yang ditolaknya, bahkan meniadakannya. Semua hal mampu Allah SWT tetapkan.

Tak seorangpun yang bisa menolak ketika diberi celaka atau sakit. Namun jika manusia sabar dan memohon pertolongan-Nya maka celaka atau sakit itu akan segera sirna. Sebaliknya, tak seorangpun yang bisa mendapatkan sesuatu yang dihalangi Allah, namun jika dia ikhlash, maka Allah akan menggantikan apa yang terlepas darinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Jika terjadi musibah, ujian atau cobaan pada seseorang, hal itu bukan selalu sebagai pertanda hukuman, azab, atau penghinaan terhadap orang tersebut, tetapi semua itu sebagai pertanda bahwa Allah SWT mempunyai kekuasaan yang sempurna untuk melakukan apapun baik dengan sebab ataupun tidak.

Boleh jadi Allah SWT menurunkan penyakit kepada hambanya, untuk mengujinya, bukan untuk mengazabnya. Sebagai jalan bagi Allah SWT untuk  memberikan pahala-Nya dan untuk meninggikan derajat seseorang itu. Allah SWT menguji seseorang dengan kefakiran, bukan agar dia menderita, tapi agar dia menjadi orang yang kuat dan tangguh dalam berusaha hingga bisa mendapatkan kekayaan yang berkah.

Demikian pula manakala Allah SWT memberikan karunia berupa akal yang luar biasa kemampuannya, dan mengilhamkan ilmu yang begitu menakjubkan, sehingga yang dahulu dianggap tidak mungkin, sekarang jadi mungkin. Begitu juga dengan anugerah anggota badan dengan segala fungsi dan kehebatannya, keindahan dan kekayaan alam yang berlimpah, semua dianugerahkan kepada manusia agar dimanfaatkan untuk kebaikan, agar manusia mau memahami dan mau tunduk pada Robb-nya.

Karena Al-Qohhaar memang tidak berarti balas dendam terhadap musuh-musuh Allah, bukan pula berarti penyiksa terhadap orang-orang yang maksiat dan dholim. Tetapi segala ketentuan itu sebagai perwujudan sifat Allah Robbul-Izzati.

Dengan keperkasaan-Nya, Allah SWT juga Maha Pengampun (Al-Ghofuur), tidak serta-merta memberi hukuman, tidak tiba-tiba menurunkan azab, tapi memberi peringatan terlebih dahulu, dan memberi penundaan sampai batas waktu tertentu. Allah SWT bukakan pintu ampunan-Nya  di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari dan bukakan pintu ampunan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari. Dzat yang Maha Berkehendak dan Menentukan itu memberikan maaf dan ampunan kepada yang dho’if (lemah) yakni manusia.

“Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?
Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Qashash: 71 dan 72)

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 12 dan 13)

Tatkala kita berada pada situasi ataupun tempat yang sulit, yang secara perhitungan manusia tidak akan mampu untuk mengatasinya, maka serulah dzat yang mampu mengalahkan apapun, Yaa Qohhaar, Yaa Qohhaar, Yaa Qohhaar tolonglah kami.

Bagi diri pribadi makna qoohiruun ini bisa diteladani. Imam Al-Ghazali mensyaratkan bagi yang ingin meneladani sifat Al-Qohhaar ini dengan terlebih dahulu memahamkan dirinya bahwa manusia adalah makhluq (ciptaan) Allah SWT, yang tujuan penciptaannya adalah untuk menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Makna qoohiruun dipakai sebagai penakluk dan penjinak hawa nafsu kita sendiri, ataupun orang lain dengan tujuan kebenaran.

Jika Allah dalam menundukkan dan menjinakkan makhluq-Nya tidak dengan mencabut kebebasannya, ataupun mematikannya (kecuali yang telah sampai ajalnya), maka nafsu juga tidak dimatikan tetapi diarahkan dan dikendalikan, agar menjadi nafsul-muthma’innah (dorongan/keinginan yang baik).

Kendalikan nafsu jumawa (angkuh) dengan sholat, kendalikan nafsu makan minum dengan puasa, kendalikan nafsu serakah dengan zakat, kendalikan nafsu foya-foya dengan sedekah, kendalikan nafsu hura-hura dengan haji/umroh, kendalikan nafsu syahwat dengan menikah, kendalikan nafsu lalai dengan dzikir (mengingat Allah SWT dan menyebut asma-Nya), kendalikan nafsu sum’ah (ingin selalu didengar) dengan dakwah, kendalikan nafsu omong kosong dan ghibah dengan tilawah (membaca dan memahami Al-Qur’an), kendalikan nafsu ujub (sombong) dengan zuhud (sederhana).

Wallaahu a'lam.


LIKA-LIKU MUALLAF

Sore itu Alifah baru pulang dari kajian di masjid kampus. Seperti biasa ia selalu naik angkot. Maklum sejak jatuh dari motor beberapa tahun yang lalu ia jadi kurang pede untuk bermotor lagi. Di samping ada wanita muda sedangkan di depannya duduk 2 orang ibu-ibu setengah baya. Sepertinya mereka bertiga berkawan, terlihat dari obrolan mereka. Tanpa bermaksud menguping, Tetap saja Alifah bisa mendengarkan obrolan mereka. Si wanita muda berkata pada ibu-ibu didepannya,
     “Tante, temanmu si Dewi itu akan menikah lho, minggu depan.”
     “Benarkah? Dengan siapa ia menikah?” Tanya ibu berbaju hijau.
     “Dengan teman kuliahnya. Tapi calon suaminya muslim, jadi Dewi sekarang ikut keyakinan calon suaminya itu.”
     “Dewi pindah agama? Apa sudah dipikir itu, biar gak nyesel nantinya. Ada lho kenalanku, ya begitu itu, pindah agama karena mau nikah. Eh… gak taunya beberapa tahun kemudian malah cerai. Ada juga yang setelah pindah agama hidupnya malah susah, banyak masalah… ya gitu deh!” sahut si ibu berbaju merah sengit.
     “Kurangtahu juga ya tante, soalnya aku tahunya ya setelah ia pindah keyakinan.” Jawab wanita muda itu pelan.

Setelah itu Alifah tidak tahu lagi pembicaraan mereka, karena ia turun terlebih dahulu, rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus. Berjalan sebentar memasuki gang kecil, sampailah Alifah di rumahnya. Sambil merebahkan badannya yang lelah, Alifah memikirkan pembicaraan orang-orang di angkot tadi. Alifah mencoba menghadirkan kembali memorinya berkaitan dengan muallaf.

***
Secara bahasa muallafah adalah bentuk jamak dari kata muallaf, yang berasal dari kata al-ulfah (الأُلْفًة), yang artinya adalah menyatukan, melunakkan dan menjinakkan

Sedangkan secara istilah syariah, para ulama mendefiniskan makna al-muallafati quluubuhum dengan berbagai pengertian:

1. Menurut Al-Imam Az-Zuhri:

مَنْ أَسْلَمَ مِنْ يَهُودِيٍّّ أَوْ نَصْرَانِيٍّ وَإِنْ كَانَ غَنِيّاً

(Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam walaupun mereka kaya).

2. Menurut Yusuf Qaradhawi dalam Fiqh Az-Zakah 2/57:

الَّذِينَ يُرَادُ تَأْلِيفُ قُلُوبِهِمْ بِالاِسْتِمَالَةِ إِلَى الإِْسْلاَمِ أَوْ تَقْرِيرًا لَهُمْ عَلَى الإِْسْلاَمِ أَوْ كَفُّ شَرِّهِمْ عَنِ المـسْلِمِينَ أَوْ نَصْرُهُمْ عَلَى عَدُوٍّ لَهُمْ

(Orang-orang yang diharapkan agar terbujuk hatinya untuk masuk Islam, atau untuk mengokohkan  mereka dalam Islam, atau untuk menghindarkan kejahatan mereka atas umat Islam, atau untuk membela mereka dari musuh-musuh mereka).

3. Secara umum muallaf biasa digunakan untuk menyebut seseorang yang bersyahadat setelah baligh (dewasa), baik berasal dari agama yang lain ataupun dari tidak beragama.

Menjadi muallaf mendatangkan berkah tersendiri, Allah SWT memberi beberapa “hadiah” berupa:

1. Penghapusan dosa yang telah lalu

Syahadat adalah pintu masuk Islam. Jika seseorang memasukinya, maka banyak hal yang tidak dibawa serta. Segala perbuatan yang tidak sesuai dengan Islam harus ditinggalkan. Dan indahnya adalah dosa yang ada pada seseorang tersebut juga ditinggalkan, tidak dibawa masuk.

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi (pada kekafiran), sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu.“ (QS. Al Anfal: 380.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa hijrah menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa haji menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya” (H.R. Muslim, No. 121).

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az-Zumar: 53)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang  QS. Az-Zumar ayat 53 ini “Ayat yang mulia ini merupakan seruan kepada orang-orang yang bermaksiat, baik orang-orang kafir atau lainnya, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini juga memberitakan bahwa Allah Tabaraka Wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa semuanya bagi orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebutan meninggalkannya, walaupun dosa apapun juga, walaupun dosanya sebanyak buih lautan. Dan tidak benar membawa arti pengampunan Allah (dalam ayat ini) dengan tanpa taubat, karena orang yang tidak bertaubat dari syirik tidak akan diampuni oleh Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, surah Az-Zumar: 53)

2. Dimasukkan surga.

Ini berdasarkan keumuman dalil bagi orang yang bersyahadat, termasuk orang yang muslim semenjak belum baligh.

“Barangsiapa mati dalam keadaan mengilmui bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, ia masuk surga” (HR. Muslim 26)

Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.” (HSR. Bukhari)

"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satu-satunya dengan tidak menyekutukan-Nya dan bahwa, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya dan (bersaksi) bahwa, 'Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan firman-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan, surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya". Al Walid berkata, telah bercerita kapadaku Ibnu Jabir dari 'Umair dari Junadah dengan menambahkan: " maka akan dimasukkan ke dalam surga lewat salah satu dari ke delapan pintu surga yang mana saja yang dia mau".(Shahih Bukhari 3180)

3. Dihindarkan dari neraka.

Ini juga berdasarkan keumuman dalil bagi orang yang bersyahadat, termasuk orang yang muslim semenjak belum baligh.

“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya.” (HR. Al-Bukhari 6938 dari Mu’adz bin Jabal ra).

4. Berhak mendapatkan zakat.

Perpindahan menuju sesuatu yang baru tentu memerlukan adaptasi. Zakat disini dimaksudkan untuk membantu muallaf melewati masa transisinya. Karena kadang ada yang dikucilkan oleh keluarganya, ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, ada yang dijauhi teman-temannya, ada pula yang dihancurkan bisnisnya. Dengan diberi zakat diharapkan bisa mengatasi kesulitannya dan menguatkannya dalam Islam. Jika muallaf tersebut tidak mengalami masalah secara materi, maka zakat tetap berhak didapatkannya sebagai hadiah dari kaum muslim untuk mereka, sebagai bentuk perhatian dan ikatan silaturrahmi. Zakat juga bisa sebagai daya tarik untuk agar orang lain juga tertarik untuk ber-Islam.

***
Jika Islam diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang indah, maka pertamakali orang bisa tertarik mungkin karena tapaknya yang bagus, mungkin karena catnya yang serasi, mungkin karena bentuknya yang menawan, mungkin pula karena penghuninya yang baik dan ramah.

Demikian pula seseorang bisa tertarik pada Islam bisa melalui beberapa sebab. Ada yang tertarik setelah berteman dan sering bertukar pendapat dengan muslim. Ada pula yang tertarik karena melihat ibadah/syariah yang dilakukan muslim. Ada yang karena membaca buku-buku Islam atau bahkan membaca/mendengarkan bacaan Al Quran. Ada pula yang karena tauhid (ajaran Keesaan Allah) yang menarik perhatiannya. Nah setelah mereka muallaf maka ketertarikan dari satu sisi tersebut harus ditarik ke sisi-sisi yang lain, agar pemahamannya tentang Islam menjadi kaffah (menyeluruh). Ini menjadi tanggung jawab pribadinya sebagai muallaf, keluarganya (jika ada yang muslim), kerabat, teman dan juga ‘alim ‘ulama.

Ketika seseorang telah bersyahadat maka ia adalah seorang muslim. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang telah ber-Islam sebelum baligh.

Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan oleh muallaf agar ke-Islaman dan keimanannya terus bertambah baik. Diantaranya adalah:

1. Mempelajari Dinul Islam dengan benar.

Kunci pokok perbedaan Islam dengan agama atau kepercayaan yang lain adalah tauhidnya, atau dalam bahasa umumnya disebut teologi. Tauhidul Islam adalah Allah Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Aqidah sebagai pondasi agama  adalah hal pertama dan utama yang harus dikuatkan. Jika keimanan dan keyakinannya telah kokoh, maka akan tangguhlah seseorang dalam menapaki kehidupannya. Ia juga akan mudah menerima dan melaksanakan aturan-aturan syariah dan fiqh Islam. Rasulullaah SAW di awal kerasulannya sangat menekankan pembinaan aqidah. Sesuai dengan ayat-ayat yang diturunkan di awal kerasulan yang lebih banyak membahas tentang aqidah. Setelah aqidah kuat, barulah diturunkankan perintah-perintah dan larangan-larangan berupa syariah, fiqh dan akhlaq.

2. Mempelajari cara membaca Al Qur’an, mengerti dan memahami isi dan maknanya.

Pedoman utama kaum muslim adalah Al Qur’an, setelah itu Al Hadist. Tentu saja untuk bisa memahami dan menjalankan Syariah Islam, kaum muslim harus mempelajari Al Qur’an. Walaupun banyak edisi terjemahnya, juga banyak ulama yang mampu menjelaskan tentang kandungan Al Qur’an, tetapi paling tidak setiap muslim wajib bisa membacanya. Selain karena membaca dan mentadabburinya adalah ibadah, juga karena semua ilmu bermula dari Al Qur’an.

3. Bersabar terhadap ujian Allah SWT.

Jika kita berjanji, pasti akan ditagih. Jika kita bersumpah, pasti akan diminta untuk membuktikan kebenaran sumpah itu. Tatkala bersyahadat, seseorang bersaksi dan bersumpah tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Tidak mustahil jika kemudian ia harus membuktikan bahwa ia ber-Islam bukan untuk mendapatkan pasangan hidup (suami atau istri), bukan agar punya sahabat sejati, bukan supaya naik jabatan, bukan guna mendapatkan keuntungan/harta berlimpah, bukan untuk menarik simpati masyarakat, bukan demi popularitas, dan bukan yang lain-lain. Tapi ia perlu membuktikan bahwa ia ber-Islam karena panggilan kebenaran, karena mendambakan ketenteraman, ketenangan dan kedamaian, juga karena harapan hidup mulia dunia akhirat. Allah SWT telah berfirman,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman" sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Tidak semua muallaf diuji dengan musibah dan kesengsaraan, ada pula yang diuji dengan kenikmatan dan keberuntungan, bahkan popularitas dan harta berlimpah. Ujian diberikan agar yang menjalaninya punya kesempatan untuk naik tingkat, dan agar ada jalan bagi Allah SWT untuk memberikan pahala dan hikmah yang lebih. Dan ujian itu juga sebagai tanda bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya. Di lain sisi Allah SWT juga menjanjikan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahah (QS. Al Insyirah ayat 5-6).

Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya (HSR. Muslim No.2572)

Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertaqwalah kepada Robbmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik, di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha dengan ujian itu, maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah. Barangsiapa yang murka atau tidak senang dengan ujian itu maka mereka akan mendapatkan murka-Nya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

4. Tetap istiqomah dalam cobaan.

Karena muallaf baru masuk Islam ketika sudah baligh, maka secara umum, berdasarkan hitungan masa/waktu, mereka  belum punya atau masih sedikit catatan amalnya. Bisa dikatakan mereka kalah start dibanding mereka yang sudah lebih dulu ber-Islam. Maka muallaf harus bergegas, harus berlari untuk mengejar ketertinggalan itu. Dalam QS. Al Waqiah ayat 10-11 Allah SWT berfirman,

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah)”

Tabiat manusia adalah baru berusaha kuat setelah terjepit. Maka cobaan adalah salah satu gambaran untuk membuat seseorang merasa terjepit, sehingga akan membuatnya berusaha kuat. Cobaan adalah cara Allah SWT untuk mendidik manusia agar menjadi kuat imannya. Ibarat besi yang berubah menjadi senjata tajam setelah ditempa. Cobaan memberi peluang pada seseorang untuk lebih giat beribadah, berdzikir, berdoa, berikhtiar, bersabar dan bertawakal. Mari kita simak hadist di bawah ini:

Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa mengantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukan itu. (HSR. Abu Ya'la No.6069).

5. Berdakwah.

Sebagai seseorang yang telah melalui proses pencarian untuk mendapatkan kebenaran, maka muallaf punya kesempatan untuk mendakwahkan apa yang diusahakannya dan apa yang didapatkannya dalam Islam kepada saudara, orangtua, kerabat, teman, tetangga, atau bahkan masyarakat luas, untuk mengajak atau mendorong mereka masuk Islam. Walaupun kadang ada hambatan baik secara internal yaitu dari diri sendiri yang belum terlalu paham tentang Islam, maupun eksternal berupa kecurigaan atau tentangan dari komunitas sebelumnya. Namun jika tekadnya kuat dan semangatnya besar, tentulah hambatan itu akan mampu dilampaui.

***
Sejatinya kelima hal diatas tidak hanya khusus untuk muallaf, tapi untuk seluruh kaum muslim. Hanya saja para muallaf seringkali jadi pusat perhatian baik oleh komunitas asalnya, maupun oleh kaum muslim. Karena mereka baru memulai ber-Islam setelah baligh, tidak sejak awal kehidupannya, seperti halnya kaum muslim yang lahir dari orangtua muslim.