Rabu, 11 September 2013

ANTARA PENGOBATAN ALTERNATIF, OBAT HERBAL DAN TINDAKAN MEDIS

Tulisan ini tak hendak untuk mendiscreditkan atau menjustice sesuatu ataupun seseorang, ini hanyalah apa yang aku alami, aku pikirkan dan aku rasakan. Sebagai seorang muslim wajib hukumnya untuk berikhtiar. Rosululloh SAW bersabda bahwa Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan obatnya. Dan setiap penyakit ada obatnya, jika suatu obat itu tepat untuk suatu penyakit, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah SWT. Lalu dengan cara apa dan kemana kita berobat? Yang paling penting adalah mencari obat atau pengobatan tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram dan mengandung kemusyrikan. Rosululloh SAW juga telah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian.

          ALTERNATIF
Ketika sakit banyak sekali teman-teman maupun saudara-saudara yang menyarankan untuk berobat ini-itu, atau kesini-kesitu. Hal pertama yang harus ditanyakan adalah siapa pengobatnya dan bagaimana cara pengobatannya. Jika tidak sesuai dengan syar'i ya tidak usah diikuti seperti memindahkan penyakit ke media lain, dibedah oleh makhluk yg tdk kelihatan (ini ada di daerah tempatku tinggal). Orang kadang tidak sabar, ingin cepat sembuh, sehingga tidak menggunakan pemikiran yang panjang untuk berobat. Na'udzubillaahi mindzalik.

Pengobatan alternatif yang pernah aku lakukan adalah terapi warming yaitu pemanasan dengan suhu tertentu di titik-titik simpul syaraf dengan tujuan melancarkan peredaran darah. Pernah juga dengan accupressur atau semacam pijat refleksi. Pemijatan atau penekanan dilakukan di titik-titik simpul syaraf di kaki, tangan, wajah dan punggung. Tiap paketnya sampai puluhan kali. Heem......lumayan.....sakitnya.

Kemudian aku berobat pada seseorang yang menggunakan terapi sholat tahajud, senam-senam dan dzikir. Memang beliaunya bilang tidak perlu lagi obat dokter, ataupun tindakan medis lainnya, cukup dengan terapi itu. Menurut pemahamanku metode itu adalah memacu tubuh kita untuk memproduksi zat-zat pelawan penyakit. Karena sebenarnya di dalam tubuh kita zat-zat itu telah tersedia, hanya perlu dirangsang agar optimal. Intinya adalah tubuh kita yang 'menyembuhkan dirinya sendiri', melalui sarana ibadah. Dari metode ini, hal mendasar yang aku dapatkan adalah penguatan batin dan peneguhan iman. Aku memang tidak pernah meragukan bahwa tahajud mempunyai banyak fadlilah. Baik secara rohani maupun secara jasmani. Yang beda dari yang biasa aku lakukan adalah jumlah roka'at dan lamanya. Metode terapi ini adalah dengan sholat tahajud 2 rokaat, yang mana tiap gerakannya lama, berdiri lama, rukuk lama, sujud lama, dst, semuanya lama. Sehingga untuk sholat 2 roka'at itu bisa sampai 2 atau 3 jam. Hal ini dimaksudkan agar tubuh punya kesempatan cukup untuk mengambil manfaat dari gerakan itu. Selain itu tentu lebih banyak munajat yang bisa disampaikan. Satu tahun aku menjalani terapi itu. tapi mungkin karena penyakitnya ganas dan penyebarannya jauh lebih cepat dibandingkan kesanggupan tubuh untuk menyembuhkannya, maka kupikir metode itu tidak bisa berdiri sendiri, harus disempurnakan dengan ikhtiar yang lain. Disamping itu, menurutku, metode ini efektif untuk pasien yang fisiknya cukup kuat. Jika kondisi fisik tidak cukup kuat untuk itu, maka metode ini perlu disesuaikan dalam jumlah roka'at dan lamanya, yang penting tetep sholat. Wallaahu'alam.

          HERBAL
Obat herbal sering dipromosikan besar-besaran, dengan testimoninya yang menakjubkan. Akupun pernah mencoba segala macam jenisnya. Mulai dari herbal Timur Tengah seperti habbatussauda', madu, air zamzam, kurma ajwa, dll. Kemudian dengan herbal nusantara seperti kunyit putih, daun sirsat, daun sirih merah, kulit manggis, sarang semut, dll. Tak ketinggalan pula herbal cina yang begitu heboh dipromosikan di media, dengan sinshe-nya yang katanya asli dari Tiongkok, dan nggak bisa bahasa Indonesia, jadi pake penterjemah deh......
    
Ketika berobat dengan herbal sangat banyak pantangannya. Lemak, protein dan karbohidrat tidak boleh dikonsumsi. Makanan pedas, manis, dingin, digoreng, dibakar dan masih banyak lagi yang tidak boleh dikonsumsi. Kenapa? Menurut pemikiranku, obat herbal itu jika kita konsumsi maka 'kekuatannya untuk mempengaruhi tubuh' sama besar dengan pengaruh makanan dan minuman yang kita konsumsi. Jadi agar pengaruh obat herbalnya kelihatan, maka 'saingannya' yaitu makanan atau minuman kita harus diminimalkan. Itulah kenapa dibuat daftar pantangan yang sangat banyak.

Hal lainnya yang mungkin kurang maksimal adalah tidak dilakukannya 'observasi awal' yang comprehensive sebelum dilakukan pengobatan, padahal itu yang sangat penting, untuk menentukan kadar dan jenis obatnya. Untuk satu nama penyakit saja, ternyata jenisnya sangat banyak, otomatis penanganannya tidak akan sama. Pengobat herbal atau alternatif jarang menggunakan data seperti itu. Mereka hanya melihat dan mendengar dari kita, gejalanya saja. Padahal ada penyakit yang tidak sama tetapi gejalanya sama atau hampir sama. Pernah aku ke pengobat alternatif dengan membawa semua rekam medis, dia malah bilang nggak usah dilihat itu, ngomong saja apa yang anda rasakan, wow....

Selain itu pengobatan herbal dan alternatif tidak punya 'progress' yang jelas. Perkembangan baik ataupun perkembangan buruknya tidak terpantau dengan baik. Tidak ada parameter yang dipakai secara khusus. Kadang pasien 'merasa sembuh' tapi sebenarnya hanya 'tidak merasakan sakit'. Memang dua hal yang berbeda antar sembuh dan tidak merasakan sakit. Jika sembuh ya penyakitnya hilang dan pasti rasa sakitnya juga hilang. Tapi kalau sekedar tidak merasakan sakit, bisa jadi memang sudah sembuh, bisa juga penyakitnya masih ada tapi syaraf perasanya melemah akibat adanya zat penahan rasa sakit, atau karena sugesti yang tinggi.

Untuk bisa sembuh dengan herbal atau alternatif juga memerlukan waktu yang lama dan ketelatenan. Kenapa begitu? biasanya obat herbal memakai 'dosis' atau takaran yang kurang pasti. Misalnya segenggam daun A. Bukankah genggaman tiap orang beda? Kalaulah jumlahnya sama, bagaimana dengan kandungannya? Pohon A yang ditanam di daerah X dan yang ditanam di daerah Y dengan lingkungan dan komposisi yang tidak mungkin sama persis, dengan perawatan yang mungkin berbeda, tentu zat yang dikandung juga akan berbeda. Padahal dosis sangat diperlukan untuk efektifitas obat.

Dengan komposisi originalnya yang masih sangat 'complex' (satu jenis tanaman masih mengandung berbagai jenis zat, belum diextract per zat) itu juga satu hal yang kurang effective. Tapi bukannya tidak ada keunggulannya. Obat herbal yang natural, termasuk 'aman' tanpa efek samping yang memberatkan. Untuk menjaga stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki metabolisme, dan mengoptimalkan kerja organ-organ tubuh, obat-obatan herbal bisa diandalkan. Bukankah nenek moyang kita dulu mengandalkan obat-obatan herbal untuk menjaga kesehatannya. Wallaahu'alam

          MEDIS
Jika kita bicara medis, tentu tidak akan terlepas dari dokter, rumahsakit dan segala macam alat-alat dan obat-obatannya. Keunggulannya medis apa?

Tiap kali ke dokter pasti mereka minta data medis yang lengkap, gejala-gejala yang dirasakan, pantauan secara fisik, dsb. Observasi awal pasti dilakukan untuk mendiagnosis penyakit, memastikan penyakitnya, kemudian menentukan tindakan. Salah diagnosis? mungkin juga, jika dokternya dulu waktu masuk sekolah kedokteran nggak lolos, terus bayar ratusan juta jadi lolos, hehehe..... itu yang kita khawatirkan melihat fenomena sistem pendidikan di negeri kita saat ini.....Wallaahu'alam.

Kemudian progress-nya ada, parameter-parameter yang dipakai jelas. Dosis obatnya berdasar research dan experiment, komposisi obatnya juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Jika sakitnya ringan ya obatnya ringan, kalau sakitnya berat ya obatnya keras. Banyak juga obat-obatan medis yang awalnya memang zat yang diambil dari tumbuhan, kemudian diextract, diteliti dengan percobaan-percobaan, setelah lolos uji maka dibuat sintetisnya agar bisa diproduksi secara masal.

Terus apakah tidak ada sisi buruknya? Pastilah ada. Sinar X, sinar Gamma atau apa namanya yang dipakai untuk radioterapi punya manfaat bisa membunuh sel kanker tapi juga bisa memicu tumbuhnya sel kanker. Itulah kenapa radioterapi ada batas maksimalnya, dan dari satu paket ke paket yang lain ada jeda waktu yang cukup.

Yang sering membuat para pasien kanker ketakutan adalah kemoterapi. Obat-obatan kemo memang sangat keras, itu diperlukan karena memang penyakitnya yang ganas. Karena saking kerasnya, maka side effect-nya juga tidak ringan, walaupun berbeda-beda keadaannya untuk tiap individu. Misalnya pasien A mengalami diare setelah kemo, tapi pasien B malah tidak bisa BAB. Ada pasien yang mungkin karena staminanya sangat bagus, sehingga enak saja dia dikemo, hanya rambutnya saja yang rontok, sementara pasien yang lain susah-payah.

Apalagi yang namanya obat itu tidak bisa milih, mana sel abnormal dan mana sel normal. Sel kanker dan sel-sel lain semuanya dihantam. Itulah kenapa begitu selesai kemo, badan rasanya tidak karu-karuan. Penyakit lama atau bawaan biasanya muncul semua. Yang sebelumnya punya asma, langsung kambuh sesaknya, yang sebelumnya punya sakit maag akan semakin parah, yang punya keturunan DM, langsung tinggi gula darahnya. Organ tubuh yang paling banyak terkena imbas adalah hati, ginjal, jantung, dan lambung. Syaraf juga termasuk. Rambut rontok hampir pasti, sel darah putih anjlok, tidak bisa dihindari. Jika leukositnya masih bisa dinaikkan dengan banyak mengkonsumsi putih telur, sari ikan gabus, daging dll, itu bagus. Tapi jika tidak bisa, maka harus disuntik dengan leucogen. Suntikan yang menyakitkan dan membuat badan panas dingin setelahnya, astaghfirullaah. Malah kalau terlalu rendah leukositnya, harus masuk ruang isolasi agar tidak terinfeksi kuman, karena tidak punya pertahanan tubuh, subhanallah. Untuk itu dokter biasanya meminta pasiennya untuk sebanyak-banyaknya makan agar regenerasi sel yang terkena imbasnya kemo bisa cepat. Juga agar tubuh kuat lagi untuk menerima gempuran obat kemo selanjutnya. Segala makanan dan minuman bergizi boleh malah harus dikonsumsi. Masalahnya adalah bisa nggak makan banyak? Itulah dia, biasanya sulit, karena setelah kemo tidak ada nafsu makan, seluruh rongga mulut meradang, mual, bahkan muntah-muntah....ya... lebih parah dikitlah daripada orang ngidam.

Pengobatan dengan kemo, berdasarkan pengalamanku, juga mempunyai satu titik dimana ketika kondisi tubuh menurun, maka 'kemampuannya menyembuhkan hampir sama dengan kemampuannya merusak'. Jika sampai pada level seperti itu, maka perlu resign dulu. Untungnya obat kemo banyak macamnya, bisa dicari alternatif yang lebih aman atau devided doses.

          PILIHAN
Lalu mana yang harus dipilih? Kalau boleh milih pasti akan milih untuk tidak sakit, jadi tidak perlu obat...... Namun jika terpaksa harus memilih, maka:

1. Pastikan dulu nama dan jenis penyakitnya. Penyakit ini timbul karena apa. Apakah karena disfungsi organ atau ada sesuatu yang mengintervensinya. Ini tentu perlu pemeriksaan medis, tidak bisa dikira-kira.

2. Perlu tahu juga seberapa berat atau ganas penyakitnya. Jika ringan, hanya stamina yang turun, atau daya tahan tubuh yang rendah, atau metabolisme yang kurang sempurna, atau kerja organ tubuh yang kurang optimal, mungkin pengobatan alternatif dan herbal masih bisa dipilih, medispun juga bisa diambil. Namun jika penyakitnya berat atau ganas, maka perawatan medis mungkin lebih tepat. Kan hanya mereka yang punya unit gawat darurat, pengobat alternatif dan herbal nggak punya.......... Maksud saya tenaga medis dan paramedis dengan peralatannya bisa melakukan tindakan yang lebih cepat.

3. Jika bisa dikombinasikan ketiga jenis pengobatan tersebut, tentu akan lebih baik. Alternatif yang berbasis spiritual akan menguatkan mental, medis yang berbasis research dan experiment untuk melawan penyakitnya sebagai pengobatan utamanya, dan herbal sebagai penunjang untuk memperbaiki dan menguatkan organ-organ tubuh, serta memulihkan stamina

4. Yang terakhir adalah tengok ada berapa digit angka di rekening kita. Kalau banyak digitnya, ya bisa leluasa memilih, namun jika tidak, maka pilih yang cepat dan tepat. Menurut pengalamanku ketiganya hampir sama, not cheap. Bukan materialis tapi itu salah satu sarana penunjang yang penting juga. Don't worry, Insya Allah selalu ada jalan. By the way aku sangat menghargai program pemerintah dengan Jamkesmas dan Jamkesdanya, bener-bener sangat banyak yang membutuhkannya. Mudah-mudahan pelaksanaannya kedepan bisa lebih tertib, adil dan merata.

Paparan diatas hanyalah dari satu sisi kita sebagai makhluk yang berakal, yang dituntut untuk berpikir, menganalisa dan mengambil kesimpulan dari suatu kejadian. Aku hanya berpikir bahwa Allah SWT mengilhamkan ilmu kepada manusia tentunya agar manusia bisa mengambil manfaatnya. Ilmu apapun itu, baik yang tradisional maupun yang modern, yang otodidak maupun yang fakultatif. Tinggal kita memilih mana yang sesuai dengan kebutuhan kita. Bukankah Allah mengatur kehidupan di dunia ini dengan satu hukum yang namanya sunnatullah. Jika mau kenyang ya makan, jika mau dapat uang ya usaha, jika mau sembuh ya berobat, dst.

Sementara disisi lain sebagai hamba yang beriman, Insya Allah,  aku yakin Allah bisa mendatangkan kesembuhan lewat apa saja. Hanya sebiji kurma, atau selembar daun, atau seteguk air, atau bahkan tanpa sarana materi apapun. Tiap-tiap orang diberi jalan yang berbeda-beda untuk bisa sembuh, tapi kita wajib untuk menyempurnakan ikhtiar. 

 إِنَّمَآ أَمۡرُهُ ۥۤ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا أَن يَقُولَ لَهُ ۥ كُن فَيَكُونُ
   

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar