Senin, 24 April 2017

KOMUNITAS SURVIVOR, TEMAN SENASIB SEPERJUANGAN


Salah satu dampak kemajuan teknologi adalah mudahnya kita berkomunikasi dengan banyak orang, dalam satu waktu, di berbagai belahan bumi. Group-group chat amat mudah dibentuk dalam berbagai aplikasi. Untuk penyintas kanker, bermacam jenis group sudah terbentuk. Sebagai group yang  para anggotanya punya keseragaman yakni sama-sama penderita penyakit berat, maka banyak manfaat dengan keberadaan group tersebut. Yang utama adalah PUNYA BANYAK TEMAN SENASIB SEPERJUANGAN.

Mengapa punya banyak teman senasib menjadi sangat berarti? Beberapa point penting ini sebagai gambarannya:

1. Teman senasib mempunyai empati yang lebih dibandingkan yang lain. Mereka bisa sangat mengerti segala problema dan keluhan sesama, baik secara fisiologis maupun psikologis. Orang luar mungkin cukup sulit untuk memahami perihal penyintas. Yang sering malah salah sangka, dianggap manja, cengeng, minta perhatian lebih, dsb.

2. Punya tempat berbagi.
Kanker bukan penyakit yang mudah untuk diatasi. Terkadang perlu waktu yang cukup lama untuk terapi. Dalam rentang waktu selama itu, begitu banyak kekacauan terjadi. Sebentar begini sebentar begitu. Yang melihat atau mendengar semua hal itu, mungkin saja bisa merasa bosan. Sakit kok gak selesai-selesai, begitu mungkin pikirnya. Lalu bagaimana dengan yang mengalaminya?  Yang pasti lebih dari sekedar bosan, jika tidak menyadari hikmah di balik semua itu. Nah di komunitas survivor, bisa berbagi rasa sesama penyintas yang tidak pernah bosan menyimak segala keluh kesah temannya.

3. Belajar bersama.
Sebagai orang yang awam terhadap dunia medis, tiba-tiba menjadi penyintas kanker, kerapkali membuat diri dan keluarga kalang kabut. Bertanya pada dokter, membaca artikel dan saling tukar informasi sesama penderita menjadi pilihan. Berbagai rasa mendapatkan penawar dan beragam tanya sedikit banyak menemukan jawab di sebuah komunitas. Info dari dokter yang berbeda-beda, yang menangani masing-masing individu, bisa menambah wawasan dan pemahaman.

4. Menangis dan tertawa bersama.
Tiap tetes airmata membawa makna berbeda untuk seorang penyintas. Memperlihatkannya pada orang lain bukanlah hal yang bijak. Selain mengadu kepada Sang Khaliq, sebagai tempat terbaik untuk berkeluh kesah, maka teman sesama survivor adalah pilihan selanjutnya. Mencurahkan isi hati dan kegundahan bersama-sama, mampu menjadi pelipur lara. Tak jarang airmata masih mengalir di pipi namun bibir telah menyunggingkan senyum. Derita bersama bisa menjadi bahan canda. Dan itu hanya bisa di komunitas.

5. Saling menguatkan dengan asupan semangat.
Menderita penyakit berat yang tidak bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, tapi lanjut melintasi bulan, dan tak jarang menembus tahun, bahkan harus tetap waspada sepanjang usia. Lelah jiwa raga terkadang menghinggapi diri. Naik turun kondisi tubuh bagai roller coaster. Hantaman berbagai terapi yang bertubi-tubi menyisakan keletihan yang sangat. Kadar semangat tak jarang hampir mencapai titik nadir. Saat-saat sulit seperti itulah akan membuat keberadaan orang-orang yang peduli, empati, memahami dan menyempatkan diri hadir, walau hanya lewat chat, bak oase di tengah padang gersang. Asupan energi dan spirit dari mereka mampu menggenjot kenaikan tekad. Semangat yang meredup kembali bersinar, harapan yang kian layu akan berkembang lagi.

6. Imunisasi hati.
Ada sebuah fenomena yang berbeda dalam komunitas tersebut. Karena semua anggotanya adalah penderita, maka berita yang berseliweran kerapkali berupa berita duka. Entah karena dropnya seorang member ataupun berpulangnya salah satu dari penghuni komunitas. Awalnya berita seperti itu bak sengatan listrik yang menyedot kekuatan tubuh, menggetarkan jantung, meluluhkan harapan dan memancing emosi sedih. Namun hal itu bisa pula diibaratkan suara klakson yang mengagetkan sekaligus mengingatkan bahwa suatu saat yang telah menghampiri teman tersebut, akan menghampiri kita jua. Tanda harus lebih giat lagi mempersiapkan bekal dengan membaguskan amal ibadah.

Seringnya mendengar kabar duka, bagai imunisasi hati. Jika imunisasi tubuh untuk mencegah dari serangan penyakit, maka imunisasi hati tipe ini untuk meluruhkan kegalauan hati dan rasa takut yang berlebih pada kematian. Sudah sewajarnya manusia takut mati, namun imunisasi hati akan mengubah kegalauan dan ketakutan tersebut menjadi sebentuk keikhlasan. Ikhlash kapanpun taqdir akan datang karena percaya Sang Khaliq telah mengatur alam semesta beserta isinya ini dengan sangat indah tanpa cela. Akan tetapi usaha dan ikhtiar harus tetap dilakukan secara maksimal, sebagai wujud dari keikhlasan tersebut. 

Tanpa mengurangi ketergantungan kita pada Allah Rabbul ‘Alamin, punya teman yang berempati adalah rejeki yang indah.


Allaahul-Wahhab

Gambar di atas diambil dari laman pkspringsewu.org 

SIKAP PARA IMAM TERHADAP PERBEDAAN MADZAB

Tulisan Ustadz Ahmad Zarkasih yang sangat mencerahkan.

Sejak dulu sudah ada yang namanya pengkotak-kotakan kelompok Islam, kalau di Iraq ada Fiqih Al-Ra’yu (Hanafi) dan di Hijaz ada Fiqih Al-Sunnah (Maliki). Bukan hanya itu, di waktu yang sama ada kelompok lain yaitu Fiqh Al-Laits bin Said (pengikut Imam Laits bin sa’d) di Mesir dan masih tersisa di Syam para pembela madzhab Imam Al-Auza’i.

Dan mereka semua berjalan beriringan tanpa ada satupun kelompok yang saling mencaci atau menganggap mereka paling benar dan paling dekat dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Semua baik-baik saja, paham dan mengerti posisi masing-masing.

Murid Imam Abu Hanifah duduk di Majlis Imam Malik.

Yang menarik adalah perbedaan pendapat diantara mereka justru malah membuat mereka saling menghargai dan tidak saling bertengkar. Mereka paham bahwa perbedaan yang muncul ketika itu, menjadi sebuah rahmat bagi umat. Mereka bisa saling jaga diri dan sikap untuk saling berlapang dada dalam setiap perbedaan. Dan tidak pernah mencari-cari siapa yang benar!

Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah Abbasiyah, sempat menawarkan Imam Malik untuk menjadikan kitabnya, Al-Muwatho’, sebagai qanun (undang-undang) negara ketika itu, namun Imam Malik menolak. Beliau tidak ingin memberatkan umat hanya dengan satu madzhab saja.

Murid-muridnya Imam Abu Hanifah dari Iraq, ketika mereka berhaji atau umrah, pasti menyempatkan diri untuk duduk di Masjid Nabawi mendengarkan pelajaran fiqih dari Imam Malik. Dan mendiskusikan apa yang mereka bawa dari fiqih Iraq kepada beliau (Imam Malik), dan semua menerima.

Imam Malik dan Imam Al-Laits.

Pernah dalam suatu ketika, Imam Laits mengutus salah satu muridnya ke Hijaz untuk mengantarkan surat kepada Imam Malik yang isinya bantahan Imam Laits terhadap “Amal Ahli Madinah” yang dijadikan dalil oleh Imam Malik di Hijaz. Tapi, di awal dan di akhir surat yang panjang itu, Imam Laits menyertakan doa untuk Imam Malik.

Sementara Imam Malik kalau mendapati di majlisnya ada salah seorang musafir dari Mesir, pasti sang Imam menitipkan salam untuk Imam Al-Laits bin Sa’d, dan tidak jarang juga memberikan hadiah walaupun hanya dengan sekantung kurma. Mereka saling mendoakan padahal Imam Al-Laits salah satu Imam yang paling santer menyelisih pendapat-pendapat Imam Malik.

Sebaliknya pun demikian, Imam Laits bin Sa’ad, kalau berangkat haji atau umrah, pasti beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Imam Malik dengan membawa buah tangan beserta segudang doa untuk kebaikan Imam Malik.

Bukan hanya itu, beliau juga yang menampung Imam Syafi’i di rumahnya. Seluruh kebutuhan Imam Syafi’i yang ingin menuntut ilmu fiqih Al-Ra’yu difasilitasi oleh Imam Muhammad bin Hasan, dari mulai tempat tidur, makan dan juga kitab. Padahal mereka sering berselisih paham ketika berdiskusi, tapi masih bisa saling berbagi.

Menariknya lagi, di samping surat bantahan itu Imam Laits menyertakan satu kantong berisikan uang ribuan dinar untuk Imam Malik. Hebat bukan... berselisih tapi saling memberi hadiah. Yang akhirnya uang itu diberikan kepada Imam Al-Syafi’i (murid Imam Malik) sebagai mahar pernikahannya dan bekal beliau (Imam Syafi’i) berangkat ke Iraq.

Imam Muhammad bin Hasan dan Imam Al-Syafi'i.

Imam Muhammad bin Hasan Al-Syaibani, murid dan pembela madzhab Hanafi, tahu dan paham bahwa Imam Al-Syafi’i banyak menyelisihi madzhabnya. Akan tetapi sesampainya Imam Syafi’i di Baghdad, beliaulah orang yang dengan tangan terbuka menyambut kedatangan Imam Syafi’i.

Dan kepergiannya ke Mesir untuk menuntut ilmu fiqih Al-Laitsi juga dibiayai oleh Imam Muhammad bin Hasan, kendaraan serta bekal perjalanan. Karena itu banyak ulama yang menyebut Imam Muhammad bin Hasan itu sebagai “bapak”-nya Imam Syafi’i di Baghdad.

Imam Syafi'i dan Imam Malik.

Yang dilakukan Imam Syafi’i ketika di Hijaz pun tidak berbeda. Beliau duduk di Masjid Nabawi mendengarkan Imam Malik, tapi beliau juga menyanggah dan menyelisih Imam Malik dalam beberapa masalah fiqih. Dan tidak ada kemarahan dari Imam Malik sedikitpun. Bahkan beliau mendoakannya agar menjadi ulama besar yang menerangi umat. Bahkan sampai jadi murid kesayangan Imam Malik.

Begitulah ulama mengajarkan kita bagaimana caranya bersikap. Walaupun saling berbeda, tidak ada dalam diri mereka keinginan untuk mengaku paling benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Semua baik-baik saja, sebaik ilmu yang mereka miliki.

Bagaimana dinegeri kita sekarang?

-wallahu a'lam-





Jumat, 27 Januari 2017

BANTUAN DARI LANGIT

BANTUAN DARI LANGIT



إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُون

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Robb-kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih’ dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fushshilat: 30)

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. Fushshilat: 31)

Dua ayat di atas membimbing kita untuk mencari bantuan dari langit. Bagaimana cara untuk mendapatkan bantuan itu? Dalam ayat tersebut sudah diungkapkan, yakni:

     1.Qooluu Robbunallaah (Katakanlah: Allah Robb Kami, Pemelihara Kami)
.
Ar-Robb mengandung makna pemelihara. Bentuk pemeliharaan dari Ar-Roob adalah berawal dari menciptakan, menyediakan segala sarana hidup, melindungi dari keburukan hingga memberi nikmat/kebaikan yang tiada terhingga. Rentang waktu pemeliharaan dari Ar-Roob adalah sepanjang masa, sejak lahir sampai menemui ajal, bahkan hingga di akhirat kelak, yakni bagi orang-orang yang taqwa.

Perputaran hidup yang dialami manusia mungkin akan menjungkir-balikkan banyak hal. Bisa jadi suatu saat seseorang berada di atas, ada kalanya berdiri di samping, ataupun tatkala tersungkur ke dasar jurang. Semua itu bukanlah sebuah problem... asalkan telah tertancap di dalam dirinya: ROBBUNALLAAH...Yang menjadi masalah adalah jika ketika berada dalam situasi atau kondisi tersebut, Allahu Ta'ala tidak dihadirkan dalam diri dan kehidupannya.

Jika Allahu Ta'ala ada dalam imannya, maka saat kesulitan hidup menerpa, ketika menemui banyak kegagalan, sewaktu mendapat masalah bertumpuk atau tatkala sakit mendera, tidak akan ada kata mengeluh, anti protes dan bebas marah. Karena apa??? Karena yakin, pasti Allahu Ta’ala akan tetap menjaga dan memberikan jalan keluar, tersebab percaya penuh bahwa segala hal dan peristiwa itu terjadi sebagai pembelajaran untuk lebih baik, Qooluu Robbunallaah…

Demikian pula ketika tengah dikaruniai kesenangan, ketenaran, kekuasaan atau harta berlimpah. Semua itu tidak lantas membuatnya sombong dan pongah, tidak akan menjadikannya lupa diri apalagi sampai melampaui batas. Pun juga tidak khawatir akan terpaan angin akibat kedudukan dan keberadaan semua hal itu. Sebab apa??? Sebab tidak ragu sedikitpun bahwa Allah akan selalu melindungi dan menuntunnya, Qooluu Robbunallaah…

Yang patut ditakutkan adalah, saat banyak masalah, gagal, sakit, atau sebaliknya ketika sukses, tenar, berkuasa dan berharta, akan tetapi Allahu Ta’ala tidak bersama kita, tidak ada dalam iman kita dan tidak dihadirkan dalam hidup kita. Maka dari itu tetaplah yakin akan pemeliharaan dari Robbunaa. Dalam keadaan apapun, dalam hal apapun dan dalam urusan apapun.

Kita bayangkan sosok seorang ibu, yang telah melahirkan, merawat dan mengasuh kita.
*Apa yang ibu lakukan ketika beliau memberikan makanan, mainan atau apapun yang membuat kita tertawa bahagia?... Pastilah ibu akan ikut merasa sangat bahagia, lantas akan memberi lagi, lagi dan lagi.
*Apa yang beliau lakukan saat kita pulang sekolah? Yang pastinya sangat lelah, haus dan lapar?... Ternyata beliau telah menyiapkan makanan dan minuman tanpa kita minta.
*Lantas bagaimana sewaktu kita tidak paham pelajaran?... Wow, dengan senang hati ibu akan mengajarinya.
*Apa yang ibu lakukan tatkala kita jatuh dari sepeda atau ketika kita jatuh sakit?... Luarbiasa, ibu justru memberi perhatian dan menunjukkan kasih sayang lebih dari sebelumnya.

Itu baru seorang ibu terhadap anak. Bagaimana dengan Allahu Robbunaa, Allah Pemelihara kita???Tentu dan pasti penjagaan dan pemeliharaan-Nya, nikmat dan pertolongan-Nya akan sangat jauh, jauh sekali, amat jauh lebih baik dari seorang ibu.

     2.Tsummastaqoomu/Istiqomah (meneguhkan pendirian).

Istiqomah mengandung makna: tetap dalam ketaatan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allahu Ta’ala, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. (Imam An-Nawawi dalam Kitab Riyadushshaalihin).

Jadi dalam keadaan yang buruk yang tidak menyenangkan atau dalam keadaan baik yang membahagiakan, maka tetaplah teguh dalam iman dan taqwa, tetaplah semangat dalam ikhtiar, tetaplah ikhlash dalam jiwa, tetaplah berprasangka baik dalam menerima setiap episode hidup dan tetaplah dalam harap akan pemeliharaan Allahu Ta’ala.

Jika kedua hal tersebut telah kita jalankan, maka akan turun dari langit sebuah kabar gembira: Janganlah kamu takut (khouf) dan janganlah kamu bersedih (hazan), karena Kami-lah (Allahu Ta’ala beserta Malaikat-Nya) yang akan menjadi pelindung (auliyaa’) di kehidupan dunia dan akhirat dan Allah janjikan jannah (surga), di dalamnya akan kita peroleh apa yang kita inginkan dan kita minta.

Jangan takut (khouf), khawatir, cemas, was-was, dsb, akan sesuatu yang akan terjadi nanti. Apapun itu, menyenangkan atau tidak, kita sukai atau tidak, gagal atau sukses... maka jangan pernah takut, tetaplah istiqomah, fokus berusaha dan selalu semangat berikhtiar. Bukankah Allahu Ta’la telah berjanji menjadi auliyaa’? Maka jangan pernah ragukan janji Allah.

Jangan pula bersedih (hazan), kecewa, menyesali, menyalahkan, dsb, dengan apa yang telah terjadi. Ikhlashkan semua, ridho terhadap segala hal, lepaskan seluruh beban yang masih ada di hati. Anggap semua yang telah terjadi adalah hal terbaik yang memang harus terjadi agar kita bisa lebih baik, semakin baik dan selalu baik. Jadikan segala hal di masa lalu adalah pondasi kuat untuk pijakan kita meloncat ke masa mendatang, menjemput karunia dan ridlo Ilaahi Roobiy.

Jika:

QOOLUU ROBBUNALLAAH, FASTAQOOMUU, LAA TAKHOOFUU WALAA TAHZANUU

Maka:

BANTUAN DARI LANGIT AKAN TURUN, DENGAN PERLINDUNGAN, PENJAGAAN DAN PEMELIHARAAN DARI ALLAHU TA’ALA

INSYA'ALLAAH



Senin, 02 Januari 2017

MEMAHAMI MAKNA SURAT AL-KAAFIRUUN


قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ   (1)
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,

 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  (2)
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  (3)
Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ  (4)
Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  (5)
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ  (6)
Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku".

Surah Al-Kaafirun termasuk Surah Makiyyah (diturunkan di Mekkah).  Asbabun nuzul (sebab turunnya) surah ini adalah adanya pemuka-pemuka musyrikin Quraisy yang menemui Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina, ialah Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad bin Al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf, pemuka Quraisy itu mengusulkan “upaya damai” yaitu dengan mengatakan “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut serta bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami, supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan jika kami yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya.”  

Mereka mengajak Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yakni Allah Ta’ala) selama setahun pula.

Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Kaafirun untuk menjawab tantangan kaum musyrikin, yaitu dengan memerintahkan Rasul-Nya beserta kaum muslim untuk berlepas diri dari agama kaum kafir secara total.

1.  Katakanlah: Wahai orang-orang kafir.
Disini Allah Ta’ala menggunakan kalimah (kata) kaafiruun yang berarti orang-orang (jamak) yang mengingkari. Dalam Islam istilah itu ditujukan kepada siapa saja yang mengingkari Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Kata itu mempunyai makna yang berlaku umum untuk semua non muslim, baik yang atheis, animisme, dinamisme, musyrik (mengadakan sesembahan lain selain Allah Ta’ala), maupun yang memeluk agama/kepercayaan lain.

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Segala yang disembah oleh orang non muslim, maka tidak akan boleh kita sembah, kita taati dan agungkan, apapun bentuk dan namanya.

3. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).
Dan mereka, non muslim tidak perlu pula menyembah apa yang kita sembah. Tidak perlu pula kita meminta untuk melakukan itu, karena tidak ada manfaatnya samasekali bagi kita.

4. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).

5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah (Allah Ta’ala).
Ayat ke-empat dan ke-lima adalah pengulangan dari ayat ke-dua dan ke-tiga dengan bentuk jumlah (kalimat) yang sedikit berbeda.

Menurut pendapat Ibnu Jarir, dari sebagian pakar bahasa, ayat pengulangan tersebut dimaksudkan sebagai penguatan makna (ta’kid). Sebagaimana ayat dalam QS. Al-Insyirah ayat 5-6 dan QS. At-Takaatsur ayat 6-7.

Sementara menurut Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud oleh ayat-2 dan ayat-3 adalah untuk masa yang dahulu, sedang makna ayat-4 dan ayat-5 adalah untuk masa sekarang dan waktu mendatang. Hal itu berarti bahwa kita tidak diperkenankan menyembah sesembahan orang kafir itu sepanjang masa dari dulu hingga akhir hayat. Demikian pula orang kafir tidak akan menyembah apa yang kita sembah selamanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ke-2:   لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
Yang dinafikan (yang ditiadakan) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali kata kerja).

Sedangkan ayat ke-4:   وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
Yang dinafikan (yang ditiadakan) adalah pengakuan adanya sesembahan selain Allah Ta’ala dan penerimaan adanya ajaran menyembah kepada selain Allah Ta’ala. Hal ini dikarenakan kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini untuk menunjukkan ta’kid (penguatan makna). Sehingga yang dinafikan dari ayat-2 dan ayat-4 adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan juga tidak menerima secara total, semua ajaran menyembah kepada selain Allah Ta’ala. Itu artinya kita wajib berlepas diri (baro’) dari sesembahan orang kafir secara lahir dan batin.

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.
Maksud ayat di atas sejalan ayat berikut:

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: 'Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)". (QS. Asy-Syura: 15)

Ayat di atas mengandung makna bahwa untuk urusan agama (diin) dan ibadah tidak boleh dicampur adukkan. Untuk orang kafir, biarkan mereka menjalankan penyembahannya, kepada siapa mereka menghamba. Sedangkan untuk kaum muslim, maka kita punya aturan dan tatacara tersendiri dalam beribadah, yaitu sesuai dengan syariat Islam yang merupakan perintah Allah Ta'ala, dengan cara yang diridhoi oleh-Nya serta yang dituntunkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ini sebuah ‘toleransi’ yang fundamental. Membiarkan setiap pemeluk agama/kepercayaan untuk menjalankan sendiri-sendiri urusan peribadatannya. Tidak ada pemaksaan, tidak perlu saling intervensi, tidak usah usil mengomentari kitab suci agama lain, apalagi tanpa pengetahuan dan keimanan. Sementara untuk urusan mu’amalah, perihal kemanusiaan, maka tidak ada larangan untuk berinteraksi dengan non muslim selama bisa saling menghargai keyakinan masing-masing.


Allaahu A’lam

Dari berbagai sumber dan kajian para ustadz.

Note:
* kalimah (Bahasa Arab) = kata (Bahasa Indonesia)
* jumlah (Bahasa Arab)  = kalimat (Bahasa Indonesia)

* gambar kaligrafi mengambil dari internet.