Selasa, 20 Desember 2016

MERENDA ASA MENGGENGGAM HARAP


Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) harapan bermakna keinginan supaya sesuatu terjadi atau keinginan supaya sesuatu menjadi kenyataan. Sedangkan menurut Wikipedia, harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud.

Perbuatan, kerja, usaha dan doa seseorang pada awalnya digerakkan oleh adanya harapan. Hal itu dimaksudkan agar harapannya menjadi kenyataan.

Harapan bisa tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Bisa bermula dari diri sendiri, lingkungan, keluarga, atau dari orang lain. Jika asa berasal dari manusia atau makhluq yang lain, maka harapan itu belum tentu bisa terwujud, karena keterbatasan mereka sebagai manusia/makhluq. Untuk itu, harapan utama kita haruslah yang bertumpu pada janji Allah Ta’ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta). Harapan seperti ini pasti akan terwujud, karena kekuasaan Allah Ta’ala tanpa batas. Dia Kuasa atas apapun, bahkan yang di luar batas kemampuan manusia untuk memprediksinya. Asa dari-Nya pasti akan menjelma dalam bentuk kenyataan yang terbaik bagi diri masing-masing insan tersebab Rahman dan Rahim-Nya. Terkadang akan kita dapatkan langsung seketika, atau masih tertunda, atau tersembunyi di balik hikmah, atau tersimpan sebagai hadiah di akhirat kelak, atau terwujud dalam bentuk lain. Innallaaha laa tukhliful mii'ad, Sesungguhnya Allah tidak akan pernah mengingkari janji.

Selama jantung masih berdetak, asa harus terus direnda, harap mesti tetap digenggam erat. Sejatinya harapan akan memicu semangat untuk terus berikhtiar dengan merelakan segala pengorbanan, hingga mengikhlaskan semua kejadian serta menjadi energi untuk mewujudkan mimpi. Tanpa menggenggam harap, diri kita akan bertambah lemah, jiwa menjadi gundah. Karena itu kitapun perlu meminta pada Sang Penguasa Langit dan Bumi, Allaahu Mulkus-Samaawaati wal-Ardh, agar iman kita dikuatkan dan asa kita menjadi nyata.

Sangat banyak janji Allah Ta’ala sebagai harapan indah bagi kita, saat kesedihan mendera, ketika musibah menimpa atau sewaktu terpuruk tanpa berdaya.

Dalam banyak Firman-Nya, terpampang berjuta asa, diantaranya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaailaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al Baqarah: 155-157)

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS.  Az-Zumar: 10)

Beberapa hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam juga nyata tertera, diantaranya:

Tidaklah seorang mukmin ditimpa rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HSR. Muslim No.2573)

Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa mengantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukan itu. (HSR. Abu Ya'la No.6069)

'Atho' bin Abi Robah rohimahullah berkata: Ibnu 'Abbas ra berkata kepadaku: "Maukah kutunjukkan kepadamu salah seorang wanita penghuni surga?" Saya jawab: "Ya" Beliau berkata: "(Yaitu) wanita yang hitam itu. Ia pernah datang kepada Nabi dan berkata: "Aku terkena penyakit ayan, dan auratku selalu terbuka (jika penyakitnya kambuh), maka berdo'alah kepada Allah untukku." Nabi SAW bersabda kepadanya: "Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu adalah surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdo'a kepada Allah agar memberikan kesembuhan kepadamu." "Aku bersabar," jawab wanita itu. Lalu ia berkata lagi: "Sesungguhnya aku takut auratku terbuka, maka berdo'alah kepada Allah bagiku agar auratku tidak terbuka." Maka beliau berdo'a untuk wanita itu." (HSR. Bukhori No.5652 dan Muslim No.2576.

Dan…

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ    وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَك
الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ  وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا   إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(QS. Al Insyirah: 1-6)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar