Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH ISLAM. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2015

UNGKAPKAN CINTAMU

Adzan isya’ belum lama berkumandang. Maryam bersegera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat. Dua orang anak balitanya diajak pula. Walaupun belum sempurna cara mereka sholat, Maryam tak mempermasalahkannya. Hitung-hitung mereka masih belajar. Si bungsu yang baru berusia 5 bulan dibaringkan di ranjang bayi.  

Usai sholat Maryam meminta anak-anaknya pergi tidur. Sambil duduk di pinggir tempat tidur, Maryam mulai membacakan cerita pengantar tidur. Anak-anak sangat menyukai kegiatan itu. Sepertinya si kecil juga ikut mendengarkan walaupun mungkin belum paham. Terlihat dari reaksi mimiknya yang serius. Belum tamat satu judul, mereka semua sudah terlelap.
“Alhamdulillaah…” gumam Maryam sembari bernafas lega. Satu tugas harian, untuk sementara, sudah terselesaikan. Iapun beranjak dari sisi tempat tidur.

Namun bukan berarti Maryam bisa beristirahat. Ia harus segera pergi ke dapur. Menyiapkan makan malam untuk suaminya yang akan pulang sebentar lagi. Sebenarnya hari ini tepat 5 tahun usia pernikahan mereka. Mulanya Maryam bermaksud memasak spesial untuk suaminya. Tapi apadaya seharian ini ketiga buah hatinya menyibukkannya. Sekarang tak cukup waktu lagi baginya untuk memasak spesial. Tak mengapalah, toh itu bukan peringatan yang harus dirayakan. Kalau sudah kepepet begini, Maryam mengeluarkan jurus masak cepat. Telur goreng dan tumis sayur. Tak sampai setengah jam hidangan telah siap termasuk teh panasnya. Tepat ketika bel rumah berbunyi, tanda suaminya datang.

            “Assalaamu’alaikum…” ucap Ridwan, suami Maryam, begitu pintu rumah dibuka.
            “Wa’alaikumussalam…” awab Maryam sambil mencium tangan Ridwan.
            “Sudah sepi, anak-anak mana?” Tanya Ridwan
            “Sudah tidur Mas. Seharian tadi mereka kebanyakan main.”

Ridwan segera pergi mandi dan sholat sebelum menyantap makan malam diiringi obrolan ringan diantara mereka berdua.
Usai makan Ridwan pamit mau tidur karena sangat lelah. Maryam mengiyakan dengan senyum lembutnya. Sebenarnya ia juga ingin istirahat, tapi dilihatnya dapur masih penuh dengan piring dan panci kotor, lantai masih berhias dengan bercak makanan anak-anak yang tumpah, belum lagi baju-baju kotor menggunung di mesin cuci. “Ini harus dituntaskan agar besok pagi ketika semua bangun rumah tampak rapi”.pikir Maryam.

Jam telah berlalu dari angka 11 tatkala Maryam menyelesaikan pekerjaannya. Lelah, penat dan pegal sekujur tubuhnya. Maryam terduduk di kursi panjang menikmati kelelahannya. Mengambil nafas panjang untuk mengurai kepenatannya. Pikirannyapun melayang, andai dalam keadaan seperti ini suaminya menghampirinya, agar bisa berbagi rasa letih dengan sekedar ucapan terimakasih, agar bisa terhalau rasa jenuh dengan ungkapan cinta.

Heem… Maryam tersenyum kecut. “Kenapa aku jadi melo ya? Bukankah Ridwan suami yang baik? Laki-laki shalih yang bertanggungjawab, rajin ibadah, giat bekerja dan aktif berdakwah? Lalu apa lagi yang aku tuntut darinya?”
Pikiran lainnya berkata,
” Tapi kenapa ia tak pernah mengungkapkan cintanya padaku? Tak pernah memujiku walau hanya untuk menyenangkanku? Tak juga ada ucapan terimakasih untuk semua yang telah aku lakukan? Capek deh…” Maryam mendesah perlahan.
“Bukankah ia tidak pernah menyakitimu? Baik dengan ucapan atau dengan perbuatan? Bukankah ia telah berusaha keras untuk memenuhi semua kebutuhanmu dan anak-anakmu?” Kata hatinya lagi.
“Iya benar, tapi aku ini tetaplah seorang wanita yang ingin dimanja, bukan hanya dengan limpahan harta tapi dengan perhatian agar aku tahu bahwa diriku berharga. Aku senang dirayu dan dipuji agar aku sadar bahwa aku dicintai. Aku perlu ucapan terimakasih agar aku tahu bahwa kehadiranku dibutuhkan. Aku membutuhkan semua itu agar aku kuat dan bersemangat menjalani hari-hariku”.
“Kalau begitu coba kau tanyakan pada suamimu tentang kegalauan hatimu itu!”
“Iya baiklah.”
Segera Maryam menghadap suaminya dan bertanya dengan suara yang tegas, tumben ia berlaku begitu, biasanya ia selalu lembut kala berbicara dengan suaminya.
            “Mas, apakah kau mencintaiku?”
Suaminya bengong dan terheran-heran dengan tingkah Maryam yang tak biasanya. Tak segera dijawab Maryam mengulangi lagi pertanyaannya,
            “Mas, apakah kau mencintaiku?”
Walau masih agak bingung suaminya menjawab,
            “Tentu saja, saya sangat mencintaimu…”
            “Apa buktinya?” sergah Maryam lagi. Suaminya tambah heran, hari ini Maryam tampak aneh. Namun dengan ketenangannya sang suami menjawab,
            “Dinda, cinta itu perbuatan hati. Seperti apa cinta itu yang paling tahu adalah diri sendiri. Aku tak bisa menggambarkan betapa besarnya sayangku padamu, aku tak bisa melukiskan betapa dalamnya cintaku padamu. Aku tak punya kata-kata indah untuk mengungkapkannya. Tapi aku wujudkan dengan tanggungjawabku untuk membimbing dan mengarahkanmu menjadi hamba Allah yang shalih. Aku tunjukkan dengan ajakan dan bahkan perintah agar kau ta’at pada Sang Khaliq, Aku perlihatkan dengan usahaku untuk memenuhi kebutuhanmu agar kau bahagia. Dan aku tekadkan agar aku, kau dan anak keturunan kita selamat tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat kelak. Aku berusaha sekuat tenaga agar kita nanti dikumpulkan di jannah. Konsekuensi cinta tidaklah ringan, tapi aku akan terus berusaha untuk semua hal itu, karena aku mencintaimu.”

Maryam terharu mendengar uraian suaminya. Namun ia belum puas. Kali ini dengan suara pelan dan kepala tertunduk ia melanjutkan pertanyaannya,
            ”Lalu apakah aku ini berarti bagimu? Karena tak pernah kudengar kau memujiku, tak pernah pula ada ucapan terimakasih untukku…”
Suaminya tersenyum mulai mengerti gejolak hati istrinya.
            “Sebenarnya aku hanya ingin menanamkan keikhlasan dalam dirimu. Aku berharap bahwa dengan atau tanpa pujian kau tetap bersemangat untuk beramal shalih, dengan atau tanpa ucapan terimakasih kau tetap istiqomah dalam kebaikan. Maafkan aku Dinda, ada satu hal yang mungkin terlupakan olehku bahwa kau wanita yang lembut hati dan suka dimanja. Aku berjanji akan memperbaiki sikapku. Namun yang pasti bahwa kau adalah harta terindah yang kupunya, kau adalah istri dan ibu yang hebat, dan aku sangat mencintaimu, terimakasih telah mendampingiku selama ini…”

Maryam tak dapat menahan rasa harunya, matanya kabur terhalang airmata, tubuhnya tergoncang menahan tangisnya. Tatkala ia usap matanya barulah ia sadar ternyata dirinya ada dalam gendongan Ridwan, suaminya. Sedikit bingung, ia bertanya-tanya dalam hati, apakah dialog dengan suaminya tadi nyata atau mimpi. Entahlah itu tak penting lagi baginya. Suaminya menggendongnya menuju ruang tengah. Di atas meja ada bungkusan kado yang besar.
            “Itu hadiah untukmu, sayang…” kata suaminya lembut.
            ‘Iya terimakasih…” jawab Maryam ceria, tanpa ingin bersegera untuk membukanya. Baginya dalam dekapan dan gendongan suaminya jauh lebih membahagiakannya daripada bungkusan kado itu, karena kini ia yakin bahwa suaminya sangat mencintainya.


Naskah sudah pernah saya kirimkan ke situs Dakwatuna dan telah dimuat pada tanggal 9 Mei 2015.



Jumat, 22 Agustus 2014

LIKA-LIKU MUALLAF


Sore itu Alifah baru pulang dari kajian di masjid kampus. Seperti biasa ia selalu naik angkot. Maklum sejak jatuh dari motor beberapa tahun yang lalu ia jadi kurang pede untuk bermotor lagi. Di sampingnya ada wanita muda sedangkan di depannya duduk 2 orang ibu-ibu setengah baya. Sepertinya mereka bertiga berkawan, terlihat dari obrolan mereka. Tanpa bermaksud menguping, Tetap saja Alifah bisa mendengarkan obrolan mereka. Si wanita muda berkata pada ibu-ibu didepannya,
     “Tante, temanku si Dewi itu akan menikah lho, minggu depan.”
     “Benarkah? Dengan siapa ia menikah?” tanya ibu berbaju hijau.
     “Dengan teman kuliahnya. Tapi calon suaminya muslim, jadi Dewi sekarang ikut keyakinan calon suaminya itu.”
     “Dewi pindah agama? Apa sudah dipikir itu? biar gak nyesel nantinya? Ada lho kenalanku, ya begitu itu, pindah agama karena mau nikah. Eh… gak taunya beberapa tahun kemudian malah cerai. Ada juga yang setelah pindah agama hidupnya malah susah, banyak masalah… ya gitu deh!” sahut si ibu berbaju merah sengit.
     “Kurangtahu juga ya tante, soalnya aku gak mungkin ikut campur urusan keyakinan.” Jawab wanita muda itu pelan.

Setelah itu Alifah tidak tahu lagi pembicaraan mereka, karena ia turun terlebih dahulu, rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus. Berjalan sebentar memasuki gang kecil, sampailah Alifah di rumahnya. Sambil merebahkan badannya yang lelah, Alifah memikirkan pembicaraan orang-orang di angkot tadi. Alifah mencoba menghadirkan kembali memorinya berkaitan dengan muallaf.

***
Secara bahasa muallafah adalah bentuk jamak dari kata muallaf, yang berasal dari kata al-ulfah (الأُلْفًة), yang artinya adalah menyatukan, melunakkan dan menjinakkan

Sedangkan secara istilah syariah, para ulama mendefiniskan makna al-muallafati quluubuhum dengan berbagai pengertian:

1. Menurut Al-Imam Az-Zuhri:

مَنْ أَسْلَمَ مِنْ يَهُودِيٍّّ أَوْ نَصْرَانِيٍّ وَإِنْ كَانَ غَنِيّاً

(Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam walaupun mereka kaya).

2. Menurut Yusuf Qaradhawi dalam Fiqh Az-Zakah 2/57:

الَّذِينَ يُرَادُ تَأْلِيفُ قُلُوبِهِمْ بِالاِسْتِمَالَةِ إِلَى الإِْسْلاَمِ أَوْ تَقْرِيرًا لَهُمْ عَلَى الإِْسْلاَمِ أَوْ كَفُّ شَرِّهِمْ عَنِ المـسْلِمِينَ أَوْ نَصْرُهُمْ عَلَى عَدُوٍّ لَهُمْ

(Orang-orang yang diharapkan agar terbujuk hatinya untuk masuk Islam, atau untuk mengokohkan  mereka dalam Islam, atau untuk menghindarkan kejahatan mereka atas umat Islam, atau untuk membela mereka dari musuh-musuh mereka).

3. Secara umum muallaf biasa digunakan untuk menyebut seseorang yang bersyahadat setelah baligh (dewasa, baik berasal dari agama yang lain ataupun dari tidak beragama.

Menjadi muallaf mendatangkan berkah tersendiri, Allah SWT memberi beberapa “hadiah” berupa:

1. Penghapusan dosa yang telah lalu

Syahadat adalah pintu masuk Islam. Jika seseorang memasukinya, maka banyak hal yang tidak dibawa serta. Segala perbuatan yang tidak sesuai dengan Islam harus ditinggalkan. Dan indahnya adalah dosa yang ada pada seseorang tersebut juga ditinggalkan, tidak dibawa masuk.

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi (pada kekafiran), sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu.“ (QS. Al Anfal: 380.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa hijrah menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa haji menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya” (H.R. Muslim, No. 121).

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az-Zumar: 53)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang  QS. Az-Zumar ayat 53 ini “Ayat yang mulia ini merupakan seruan kepada orang-orang yang bermaksiat, baik orang-orang kafir atau lainnya, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini juga memberitakan bahwa Allah Tabaaraka Wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa semuanya bagi orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebutan meninggalkannya, walaupun dosa apapun juga, walaupun dosanya sebanyak buih lautan. Dan tidak benar membawa arti pengampunan Allah (dalam ayat ini) dengan tanpa taubat, karena orang yang tidak bertaubat dari syirik tidak akan diampuni oleh Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, surah Az-Zumar: 53)

2. Dimasukkan surga.

Ini berdasarkan keumuman dalil bagi orang yang bersyahadat, termasuk orang yang muslim semenjak belum baligh.

“Barangsiapa mati dalam keadaan mengilmui bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, ia masuk surga” (HR. Muslim 26)

Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.” (HSR. Bukhari)

"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satu-satunya dengan tidak menyekutukan-Nya dan bahwa, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya dan (bersaksi) bahwa, 'Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan firman-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan, surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya". Al Walid berkata, telah bercerita kapadaku Ibnu Jabir dari 'Umair dari Junadah dengan menambahkan: " maka akan dimasukkan ke dalam surga lewat salah satu dari ke delapan pintu surga yang mana saja yang dia mau".(Shahih Bukhari 3180)

3. Dihindarkan dari neraka.

Ini juga berdasarkan keumuman dalil bagi orang yang bersyahadat, termasuk orang yang muslim semenjak belum baligh.

“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya.” (HR. Al-Bukhari 6938 dari Mu’adz bin Jabal ra).

4. Berhak mendapatkan zakat.

Perpindahan menuju sesuatu yang baru tentu memerlukan adaptasi. Zakat disini dimaksudkan untuk membantu muallaf melewati masa transisinya. Karena kadang ada yang dikucilkan oleh keluarganya, ada yang diberhentikan dari pekerjaannya, ada yang dijauhi teman-temannya, ada pula yang dihancurkan bisnisnya. Dengan diberi zakat diharapkan bisa mengatasi kesulitannya dan menguatkannya dalam Islam. Jika muallaf tersebut tidak mengalami masalah secara materi, maka zakat tetap berhak didapatkannya sebagai hadiah dari kaum muslim untuk mereka, sebagai bentuk perhatian dan ikatan silaturrahmi. Zakat juga bisa sebagai daya tarik untuk agar orang lain juga tertarik untuk ber-Islam.

***
Jika Islam diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang indah, maka pertamakali orang bisa tertarik mungkin karena tapaknya yang bagus, mungkin karena catnya yang serasi, mungkin karena bentuknya yang menawan, mungkin pula karena penghuninya yang baik dan ramah.

Demikian pula seseorang bisa tertarik pada Islam bisa melalui beberapa sebab. Ada yang tertarik setelah berteman dan sering bertukar pendapat dengan muslim. Ada pula yang tertarik karena melihat ibadah/syariah yang dilakukan muslim. Ada yang karena membaca buku-buku Islam atau bahkan membaca/mendengarkan bacaan Al Quran. Ada pula yang karena tauhid (ajaran Keesaan Allah) yang menarik perhatiannya. Nah setelah mereka muallaf maka ketertarikan dari satu sisi tersebut harus ditarik ke sisi-sisi yang lain, agar pemahamannya tentang Islam menjadi kaffah (menyeluruh). Ini menjadi tanggung jawab pribadinya sebagai muallaf, keluarganya (jika ada yang muslim), kerabat, teman dan juga ‘alim ‘ulama.

Ketika seseorang telah bersyahadat maka ia adalah seorang muslim. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang telah ber-Islam sebelum baligh.

Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan oleh muallaf agar ke-Islaman dan keimanannya terus bertambah baik. Diantaranya adalah:

1. Mempelajari Dinul Islam dengan benar.

Kunci pokok perbedaan Islam dengan agama atau kepercayaan yang lain adalah tauhidnya, atau dalam bahasa umumnya disebut teologi. Tauhidul Islam adalah Allah Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Aqidah sebagai pondasi agama  adalah hal pertama dan utama yang harus dikuatkan. Jika keimanan dan keyakinannya telah kokoh, maka akan tangguhlah seseorang dalam menapaki kehidupannya. Ia juga akan mudah menerima dan melaksanakan aturan-aturan syariah dan fiqh Islam. Rasulullaah SAW di awal kerasulannya sangat menekankan pembinaan aqidah. Sesuai dengan ayat-ayat yang diturunkan di awal kerasulan yang lebih banyak membahas tentang aqidah. Setelah aqidah kuat, barulah diturunkankan perintah-perintah dan larangan-larangan berupa syariah, fiqh dan akhlaq.

2. Mempelajari cara membaca Al Qur’an, mengerti dan memahami isi dan maknanya.

Pedoman utama kaum muslim adalah Al Qur’an, setelah itu Al Hadist. Tentu saja untuk bisa memahami dan menjalankan Syariah Islam, kaum muslim harus mempelajari Al Qur’an. Walaupun banyak edisi terjemahnya, juga banyak ulama yang mampu menjelaskan tentang kandungan Al Qur’an, tetapi paling tidak setiap muslim wajib bisa membacanya. Selain karena membaca dan mentadabburinya adalah ibadah, juga karena semua ilmu bermula dari Al Qur’an.

3. Bersabar terhadap ujian Allah SWT.

Jika kita berjanji, pasti akan ditagih. Jika kita bersumpah, pasti akan diminta untuk membuktikan kebenaran sumpah itu. Tatkala bersyahadat, seseorang bersaksi dan bersumpah tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah SWT dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Tidak mustahil jika kemudian ia harus membuktikan bahwa ia ber-Islam bukan untuk mendapatkan pasangan hidup (suami atau istri), bukan agar punya sahabat sejati, bukan supaya naik jabatan, bukan guna mendapatkan keuntungan/harta berlimpah, bukan untuk menarik simpati masyarakat, bukan demi popularitas, dan bukan yang lain-lain. Tapi ia perlu membuktikan bahwa ia ber-Islam karena panggilan kebenaran, karena mendambakan ketenteraman, ketenangan dan kedamaian, juga karena harapan hidup mulia dunia akhirat. Allah SWT telah berfirman,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman" sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Tidak semua muallaf diuji dengan musibah dan kesengsaraan, ada pula yang diuji dengan kenikmatan dan keberuntungan, bahkan popularitas dan harta berlimpah. Ujian diberikan agar yang menjalaninya punya kesempatan untuk naik tingkat, dan agar ada jalan bagi Allah SWT untuk memberikan pahala dan hikmah yang lebih. Dan ujian itu juga sebagai tanda bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya. Di lain sisi Allah SWT juga menjanjikan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahah (QS. Al Insyirah ayat 5-6).

Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya (HSR. Muslim No.2572)

Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertaqwalah kepada Robbmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik, di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha dengan ujian itu, maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah. Barangsiapa yang murka atau tidak senang dengan ujian itu maka mereka akan mendapatkan murka-Nya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

4. Tetap istiqomah dalam cobaan.

Karena muallaf baru masuk Islam ketika sudah baligh, maka secara umum, berdasarkan hitungan masa/waktu, mereka  belum punya atau masih sedikit catatan amalnya. Bisa dikatakan mereka kalah start dibanding mereka yang sudah lebih dulu ber-Islam. Maka muallaf harus bergegas, harus berlari untuk mengejar ketertinggalan itu. Dalam QS. Al Waqiah ayat 10-11 Allah SWT berfirman,

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah)”

Tabiat manusia adalah baru berusaha kuat setelah terjepit. Maka cobaan adalah salah satu gambaran untuk membuat seseorang merasa terjepit, sehingga akan membuatnya berusaha kuat. Cobaan adalah cara Allah SWT untuk mendidik manusia agar menjadi kuat imannya. Ibarat besi yang berubah menjadi senjata tajam setelah ditempa. Cobaan memberi peluang pada seseorang untuk lebih giat beribadah, berdzikir, berdoa, berikhtiar, bersabar dan bertawakal. Mari kita simak hadist di bawah ini:

Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun tidak ada satu amal yang bisa mengantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai pada kedudukan itu. (HSR. Abu Ya'la No.6069).

5. Berdakwah.

Sebagai seseorang yang telah melalui proses pencarian untuk mendapatkan kebenaran, maka muallaf punya kesempatan untuk mendakwahkan apa yang diusahakannya dan apa yang didapatkannya dalam Islam kepada saudara, orangtua, kerabat, teman, tetangga, atau bahkan masyarakat luas, untuk mengajak atau mendorong mereka masuk Islam. Walaupun kadang ada hambatan baik secara internal yaitu dari diri sendiri yang belum terlalu paham tentang Islam, maupun eksternal berupa kecurigaan atau tentangan dari komunitas sebelumnya. Namun jika tekadnya kuat dan semangatnya besar, tentulah hambatan itu akan mampu dilampaui.

***
Sejatinya kelima hal diatas tidak hanya khusus untuk muallaf, tapi untuk seluruh kaum muslim. Hanya saja para muallaf seringkali jadi pusat perhatian baik oleh komunitas asalnya, maupun oleh kaum muslim. Karena mereka baru memulai ber-Islam setelah baligh, tidak sejak awal kehidupannya, seperti halnya kaum muslim yang lahir dari orangtua muslim.



Sabtu, 05 Juli 2014

PELAYAN

Pagi yang cerah. Matahari baru mau menyembulkan sedikit cahayanya. Di hampir setiap rumah kesibukan sudah dimulai, karena hari itu bukan hari libur. Yang mau sekolah sudah mempersiapkan segala kebutuhannya. Yang mau berangkat kerja juga tak kalah sibuknya menata keperluannya. Yang lebih sibuk lagi adalah yang menyiapkan kebutuhan sekolah anak-anaknya dan menata keperluan kerja suaminya, yaitu ibu.

Di rumah Pak Fahmi juga sama sibuknya. Sejak matahari belum terbit Bu Farah sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan, dan menyiapkan minum untuk suami dan anak-anaknya. Membantu menyiapkan keperluan suami dan keperluannya sendiri. Karena Bu Farah juga bekerja di sebuah Bank Syariah. Si kecil Fatin nampak sudah siap. Namun Fahri anak pertamanya yang duduk di bangku SMP, pagi itu terlihat terlambat bangun. Rupanya dia tertidur lagi setelah sholat shubuh, maklum tadi malam tidurnya terlalu larut. Hari itu ulangan semerter. Bahan pelajarannya cukup banyak. Dengan terburu-buru dan sedikit cemas dia berteriak pada pembantunya,

          "Bibik, tolong ambilkan baju seragam sama sepatu Fahri... cepet Bik...!"

Beberapa saat kemudian terdengar lagi teriakannya,

          "Bibik, kenapa lama sekali, cepet Bik... Fahri buru-buru nih!"

Dengan tergopoh-gopoh pembantunya membawakan keperluan Fahri. Buru-buru dia ganti baju dan pakai sepatu. Tak sempat makan pagi, Fahri hanya minum segelas susu sereal, Fahiri segera berlari keluar rumah. Ayah, ibu dan adiknya telah menunggu di dalam mobil. Mobil segera meluncur pelan setelah Fahri masuk.

Beberapa saat setelah mobil melaju ibu memulai percakapan,
          "Fahri, Ibu lihat kamu sudah bangun dari tadi, kenapa jadi terburu-buru begitu?"
          "Fahri tertidur lagi Bu, masih ngantuk sekali, belajarnya sampai malam." jawab Fahri.
          "Iya Kakak ini, sampai bentak-bentak bibik kayak gitu." sahut Fatin adiknya ikut nimbrung.
          "Lho, bukannya memang bibik itu tugasnya melayani kita? dia memang pelayan kan?!" jawab Fahri enteng.
          "Kakak ini, gak boleh gitu, kasihan kan bibik sudah tua, kok dibentak-bentak!" sambung Fatin lagi.
          "Iya Fahri, walaupun bibik itu pembantu, tapi harus tetap diperlakukan dengan baik." kata Bu Farah menasehati.
          "Iya Bu, Fahri khilaf, nanti pulang sekolah Fahri minta maaf sama bibik." jawab Fahri kalem.
          "Gitu dong kakakku yang cakeep..." sahut Fatin bercanda.

Mobil yang tadinya melaju pelan di jalanan yang mulai padat, kemudian berhenti. Perempatan jalan, traffic lightnya sedang menyala merah. Sambil mengunyah biscuit, Fatin melayangkan pandangannya keluar jendela. Di pojok perempatan terpampang baliho besar bergambar bapak dan ibu polisi. Dengan seragamnya yang rapi, membuat mereka tampak gagah. Disampingnya terdapat sebuah tulisan besar berbunyi Polisi Abdi Masyarakat. 
Sambil menoleh pada ibunya Fatin bertanya,
          "Bu, apa artinya Polisi Abdi Masyarakat itu?"
Bu Farah menjawab datar,

         "Sepengatahuan Ibu, abdi itu berasal dari Bahasa Arab yang artinya hamba, tapi kalau dalam Bahasa Indonesia sering diartikan sebagai pelayan."
        
          "Jadi bapak-bapak sama ibu-ibu yang gagah itu pelayan ya Bu?" tanya Fatin lagi.

Setelah diam sejenak ibu baru menjawab,
          "Begini anak-anak, apapun profesi kita di dunia ini pada dasarnya adalah pelayan. Namanya pelayan ya tugasnya melayani orang lain. Tapi itu hanya untuk urusan mu'amalah, kalau urusan ibadah ya hanya yang kita Allah ta'ati."
        
          "Kok begitu Bu?" sahut Fahri memotong pembicaraan ibunya, "Kenapa semua dibilang pelayan?Bukankah ada pedagang, guru, dokter, pengacara, ada juga pejabat kan Bu?"
          "Iya benar, profesi itu memang bermacam-macam. Tapi coba kalian cermati bagaimana mereka bekerja. Misalnya pedagang,dalam bekerja mereka harus melayani pembelinya dengan ramah, dengan jujur, kalau tidak, pasti orang tidak suka belanja di tokonya..."
        
          "Iya Bu, bener, warungnya Bu Ina yang deket rumah kita itu, jarang lho yang mau beli, habisnya Bu Ina cemberut aja. sereeem jadinya. Fatin juga lebih suka belanja di warungnya Bu Ika, padahal warungnya lebih jauh kan, tapi Bu Ikanya ramah, banyak senyum, seneng deh kitabelanja di sana." sahut Fatin memotong pembicaraan ibunya.

Ibu melanjutkan uraiannya,
          "Contohnya lagi Ibumu ini. Sebagai pegawai bank, Ibu juga harus melayani nasabah dengan baik. Itu artinya Ibu juga pelayan. Lihatlah Ayah kalian juga. Sebagai dokter, Ayah juga harus melayani pasien dengan baik. Dengan begitu pasien jadi semangat untuk berobat, jadi penuh harapan untuk sembuh, walaupun nantinya hanya Allah SWT yang kuasa untuk menyembuhkan. Tapi paling tidak pelayanan yang baik dari tenaga medis akan sangat membantu mempercepat kesembuhan. Pernahkan kalian lihat tengah malam Ayah ditelpon untuk datang ke rumah sakit? Itulah resikonya jadi pelayan, tugas pengabdian, harus siap kapanpun dibutuhkan. Demikian pula profesi-profesi yang lain."
        
          "Terus untuk apa dong Fahri capek-capek sekolah, susah-susah belajar, kalo akhirnya akan jadi pelayan?" tanya Fahri setengah memprotes.

Kali ini ayah yang tergoda untuk menjawab,

          "Begini Fahim, seseorang itu belajar, bersekolah, kursus, atau yang lainnya, itu untuk mencari ilmu, untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan. Semakin banyak ilmu dan keterampilan yang dipunyai, maka akan semakin banyak hal yang bisa diperbuat, semakin banyak manfaat dirinya. Coba kalian perhatikan bibik di rumah. Karena pendidikannya rendah, terus ketrampilannya hanya beres-beres rumah, ya peluang kerjanya hanya jadi pembantu rumah tangga atau sejenisnya. Tapi lihat ibumu, dengan pendidikan yang cukup, banyak yang bisa dilakukannya. Mau ngurusi rumah serta merawat kalian? dia ahlinyanya, walaupun tanpa baby sitter. Jadi guru les privat kalian? itu pekerjaan mudah bagi ibu. Kerja di bank atau perusahaan lain? jangan ditanya lagi, dia ahlinya. Mau mengamalkan ilmunya untuk kerja sosial? tidak ada susahnya, Insya Allah ibumu mampu. Apalagi bagi Ayah, Ibumu adalah sekretaris pribadi yang handal tiada duanya, teman diskusi yang cerdas dan bidadari cantik yang menawan." Kata pak Fahmi sambil tersenyum melirik istrinya.

          "Ah.. Ayah ini ada-ada saja." Jawab Bu Farah tersipu.

          "Demikian juga dengan Ayah kalian. Ilmunya banyak sekali manfaatnya. Berguna untuk diri sendiri dan keluarga, kita jadi lebih paham kesehatan. Bisa untuk menolong orang yang sedang sakit, bisa juga untuk memberi pelajaran pada mahasiswa, atau memberi penyuluhan pada masyarakat agar hidup sehat, dan masih banyak lagi yang bisa Ayah lakukan. Disamping itu  ada imbalannya cukup untuk menafkahi kita. Iya kan?... Itu hanya gambaran kecil saja. Yang penting bagi kalian sekarang adalah tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, latihlah kecakapan kalian dan jadikan ilmu itu penambah kesalehan kalian, dan bukan penambah kesombongan. Ibu selalu berdoa agar kalian diberi ilmu ladunni yaitu ilmu yang akan mendekatkan kalian pada Allah. Karena tidak ada yang perlu disombongkan di dunia ini karena semua orang adalah...."

        

           "PE - LA - YAN...." serentak Fahri dan Fatin melanjutkan uraian ibunya.


Ciiittttt..... mobil direm mendadak oleh pak Fahmi. Bu Farah, Fahri dan Fatin terkejut dibuatnya.

          "Ada apa Ayah?" tanya mereka serempak.
          "Lihat di depan itu..." jawab pak Fahmi.

Pantas saja di depan mobil tampak begitu banyak orang bergerombol di kanan kiri jalan. Mereka berjalan tidak beraturan, berkelompok kelompok sambil membawa poster, papan dan lain-lain dengan berbagai macam tulisan. Teriakan dan orasi juga ramai terdengar. Pagi-pagi mereka sudah berdemo, sementara polisi belum siaga di tempat untuk mengamankannya, jadilah keruwetan di pagi itu tak terelakkan.
        
          "Ada demo ya Yah?" tanya Fatin.
          "Sepertinya begitu..." jawab pak Fahim datar.
          "Apa yang didemo?" si cerewet Fatin ingin tahu.
          "Baca dong Dik tulisan-tulisan yang mereka bawa itu!" sahut Fahri

RAKYAT BUTUH BUKTI TIDAK BUTUH JANJI'
'COPOT, PEJABAT KKN'
'USUT TUNTAS KORUPSI'
'KEMBALIKAN HAK KAMI'
dan masih banyak lagi poster yang mereka bawa.
  
          "Inilah satu bukti jika pelayan yang namanya pejabat tidak menjalankan tugasnya dengan baik.........." gumam Pak Fahim lirih.

Andai saja mereka tahu dan paham hal-hal ini:
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yangsombong lagi membanggakan diri (QS. Luqman: 18)
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik, surga) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Qoshosh: 83)

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim: 91)

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk surga? mereka semua adalah orang-orang lemah yang tawadhu', namun jika bersumpah niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya. Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong)" (HR. Bukhari: 4198 dan Muslim: 2853).

Al-Hasan berkata, Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qal bin Yasar ra., ketika ia sakit yang menyebabkan kematiannya, maka Ma’qal berkata kepada Ubaidillah bin Ziyad, “Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah dengar dari Rasulullah saw., aku telah mendengar Nabi saw. bersabda, “Tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya harumnya surga (melainkan tidak mendapat bau surga).

(Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab “Hukum-hukum” bab “Orang yang diberi amanat kepemimpinan).





Rabu, 18 Juni 2014

SOK ALIM LAWAN SOK KAFIR


Siang itu pulang dari sekolah Bilqis langsung mencari ibunya. Didapatinya ibunya sedang membaca majalah di ruang tengah.

          “Bu, Bilqis mau cerita nih.” katanya seperti tidak sabar.
          “Ada apa Bilqis kelihatannya bersemangat sekali?” tanya ibunya.
          “Iya Bu, tadi di sekolah ada temanku yang bilang, kamu itu sok alim. Dan ini bukn yang pertamakali Bu, sudah sering mereka bilang begitu.”
          “Sebabnya apa mereka bilang begitu?”
          “Macam-macamlah Bu. Misalnya, karena aku tidak mau kasih contekan, trus kadang mereka kurang sopan ngomongnya, jadi aku nasehatin, trus aku nggak mau diajak jalan-jalan malam Minggu, trus aku juga nggak mau diajak nonton bioskop, daaan banyak lagi deh Bu”
          “Betul sikapmu itu Nak, tapi biarlah Allah kan Yang Mahatahu tentang perbuatan kita. Terus kamu jawab apa ketika mereka mengatakan kamu sok alim?”
          “Ya kubilang saja, tidak apa-apa kalian bilang aku sok alim, daripada kamu sok kafir…”
          “Haa…apa itu sok kafir?”
          “Ya lawannya sok alim dong Bu…”
          “Mereka menjawab apa ketika kamu katakan sok kafir?”
          “Mereka diam saja Bu, tidak bisa menjawab.”

Sok dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti berlagak atau merasa seperti itu walaupun sebenarnya tidak. Misalnya: sok tahu berarti berlagak tahu padahal tidak, sok alim berarti berlagak alim padahal tidak. 

Kata sok alim biasa digunakan untuk meledek atau mencemooh seseorang yang dianggap hanya berpura-pura melakukan suatu perbuatan baik. Sejatinya apakah seseorang melakukan perbuatan itu dengan tulus atau pura-pura, hanya dirinya sendiri yang tahu. Bisa jadi dia hanya berlagak alim padahal tidak. Bisa juga dia memang benar-benar alim, tetapi orang lain berburuk sangka padanya dengan mengatakan ‘sok alim’. Tetapi paling tidak apa yang dilakukannya adalah suatu perbuatan baik. Perkara tulus/ikhlas atau tidak itu urusannya dengan Allah. Orang lain tidak berhak menghakiminya. Semua perbuatan tergantung niatnya, jadi biarlah Allah Yang Mahatahu yang menilainya.

Bagaimana dengan sok kafir? Sama juga. Bisa jadi seseorang itu hanya berlagak seperti orang kafir padahal tidak. Dia melakukan hal itu mungkin agar dikatakan gaul. Namun bisa jadi dia memang benar-benar kafir (mengingkari satu atau lebih firman/ketentuan Allah Ta’ala). Terlepas dari benar atau tidak persangkaan orang, tapi yang namanya sok kafir pastilah yang diperbuat adalah menyerupai orang kafir. Sebagai seorang muslim, perbuatan itu patut dihindari karena  Islam melarangnya

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka (kaum tersebut).” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Umar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6149)

Senin, 16 Juni 2014

IRI PADAMU SAUDARAKU

Saat kita menyimak berita-berita tentang muslim di seluruh dunia membuat perasaan mengharu-biru. Bagaimana tidak, mengetahui betapa beratnya perjuangan rakyat Palestina yang telah puluhan tahun tak henti-hentinya ditindas Israel. Melihat betapa menderitanya rakyat Suriah di bawah kebrutalan rezim penguasa, dibantai, dan dianiaya. Belum lagi membayangkan kuatnya permusuhan pemerintah kudeta militer di Mesir terhadap penegakan syariah Islam. Apalagi mengetahui kabar tentang pembantaian muslim di Afrika Tengah. Subhanallaah, tak terhitung nyawa yang telah melayang, tak terkira penderitaan, kesengsaraan, kesedihan dan kesulitan hidup mereka. Wanita dan anak-anak tak luput menjadi korban. Pilu dan sedih bercampur dengan marah menyesakkan dada.

Namun jika kita lihat dari sudut pandang yang lain, yakni dengan mengingat janji-janji Allah, maka kita akan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung. Kenapa beruntung? Karena musuh yang harus mereka hadapi sangat jelas. Hadir di hadapan mereka musuh-musuh Allah yang nyata. Panggilan menjadi mujahid nyaring terdengar, jalan menjadi syuhada terbuka lebar. Mental mereka tertempa dengan perjuangan. Iman mereka terasah dengan penderitaan. Saat mereka harus menahan derita, harapan masuk surga tanpa hisab terasa sangat dekat. Tatkala dunia tak memberi uluran tangan, ketawakalan mereka menggunung hanya bergantung pada pertolongan Allah SWT. Ketika senjata tidak ada di tangan, doa jadi senapannya, ghirah jadi peledaknya. Ketika benteng tak lagi bisa menahan serangan musuh, perlindungan Allah SWT jadi sandarannya. Ketika kekuatan mulai melemah maka kedigdayaan Allah SWT jadi harapannya. Syahid menjadi cita-cita tertingginya.

Allah SWT benar-benar memuliakan mereka. Betapa indahnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang syahid:

“Allah SWT berfirman: Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizqi. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 169-171)”

“Rasulullah SAW bersabda: “Bagi orang syahid di sisi Allah maka ia memperoleh enam perkara,
  1.  yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya,  
  2. diperlihatkan tempat duduknya di surga,    
  3. dilindungi dari adzab kubur, 
  4. aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), 
  5. dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun‘in (bidadari surga), dan
  6. diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)”
 Siapa sajakah mereka?

“Rasulullah SAW bersabda: 
  1. siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, 
  2. siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid, 
  3. siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan 
  4. siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)
“Salman Al-Farisi RA menyebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW: “Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizqinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim)

Keadaan kita disini sangatlah berbeda. Secara umum situasi negeri kita aman, kita masih bisa menjalankan syariah Islam dengan mudah, kecuali di beberapa daerah atau di beberapa hal tertentu. Kekayaan alam melimpah, dengan cuaca yang relatif bersahabat. Itu adalah karunia yang sangat besar dari Allah SWT yang perlu kita syukuri, namun semua itu jangan sampai melupakan kita akan satu hal.

Secara kasat mata tidak ada musuh yang memerangi kita terang-terangan. Atau tepatnya adalah musuh kita tidak tampak. Padahal musuh itu tetaplah ada. Dia menyelinap di relung hati, dan merasuk ke dalam pikiran. Hingga akibatnya mampu mengubah cara pandang, mampu menahan anggota tubuh untuk melakukan kebajikan dan mampu menggerakkan anggota tubuh  untuk bermaksiat. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Musuh kita menggunakan taktik perang gerilya. Musuh kita memerangi dengan perang pemikiran, dengan melenakan kita, dengan menina-bobokkan kita, dengan melemahkan semangat kita dalam meninggikan Kalimatullah. Musuh kita berupa wahn yang dikibarkan oleh media bathil, yang dihembuskan oleh rayuan materialistik, yang disuarakan oleh corong-corong sesat, dan yang didengungkan oleh ajakan-ajakan munkar. Untuk itu kita harus tetap waspada agar tidak tergoda, dan selalu mohon perlindungan kepada Allah SWT

Jika kita ditimpa keadaan seperti mereka, yang harus menghadapi musuh secara langsung, belum tentu kita mampu untuk menghadapi. Belum tentu kita mampu untuk istiqomah di jalan Allah. Kita azzamkan (tekadkan) untuk berbuat yang terbaik di keadaan kita. Dan tidak perlu berkecil hati. Bukankah Allah SWT adalah Rabb yang Maha Adil. Rahmatnya meliputi segalanya. Tanpa harus mengalami, kita bisa mendapatkan pahala mati syahid. Jika syahid dengan jiwa belum mampu kita kerjakan, maka kita bisa mendapatkan pahala syahid dengan doa.

“Siapa saja di antara kamu yang berdoa pada Allah agar diberi mati syahid, Allah akan memberikan pahala mati syahid sekalipun jika orang itu wafat di atas tempat tidurnya.” (HR Muslim).

Namun pahala itu tidak akan datang tanpa ikhtiar kita. Pahala itu hanya akan diberikan Allah SWT setelah seseorang berjihad di jalan Allah, baik dengan jiwanya maupun hartanya.

Kita juga bisa berjihad dengan harta kita. Harta yang kita punya bisa berangkat ke medan perjuangan walaupun tanpa tuannya. Bagaimanapun juga mereka sangat membutuhkan dukungan perbekalan untuk melawan musuh, berupa makanan dan minuman, juga obat-obatan.dan senjata.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al Baqarah: 261)

“Siapa yang menyiapkan perbekalan orang yang berperang berarti telah berperang dan siapa mengurus harta dan keluarga orang yang berperang berarti telah ikut berperang” (HR. Bukhari-Muslim).